Perlunya JPO di Jalan Raya Serpong

March 18, 2008

Kawasan Serpong merupakan kawasan yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan paling pesat di wilayah Tangerang. Dengan dimotori oleh pembangunan perumahan Bumi Serpong Damai, Serpong yang sebelumnya merupakan kawasan pinggiran berubah menjadi kawasan elit, banyak perumahan untuk kalangan menengah ke atas bertebaran di bilangan Serpong. Pusat-pusat perbelanjaan yang besar pun dibangun untuk mendukung populasi Serpong yang semakin meningkat seperti WTC Serpong, ITC BSD dan Plasa Serpong. Pusat perbelanjaan yang paling gres adalah Summarecon Mall yang terletak di Summarecon Serpong atau kawasan yang dulu dikenal sebagai Gading Serpong. Perkembangan kawasan yang begitu pesat memaksa pemerintah Kabupaten Tangerang untuk membangun prasarana lalu lintas yang memadai untuk mendukung mobilitas penduduk kawasan Serpong dan sekitarnya. Saya masih ingat ketika pada tahun 1996 pergi ke BSD Plasa dari kawasan Lippo Karawaci, Jalan Raya Serpong masih merupakan jalan kecil dua lajur kanan-kiri yang berlawanan arah. Kondisi lingkungan di sisi jalan sepanjang perjalanan dari Lippo Karawaci ke BSD Plasa masih didominasi oleh tanah kosong. Lalu lintas pun Belum begitu ramai. Keadaan tersebut membuat jarak Lippo Karawaci – BSD Plasa terasa sangat jauh. Akan tetapi, saat ini Jalan Raya Serpong telah menjadi sebuah jalan raya yang besar dan ramai. Pagi hari arus lalu lintas dari arah Serpong menuju ke arah Tangerang (Tol Jakarta – Merak) mulai dari Bunderan Alam Sutera selalu macet karena banyaknya kendaraan yang menuju ke arah tersebut. Pada arah sebaliknya, arus lalu lintas dari Tangerang menuju ke arah Serpong juga ramai tetapi tidak sampai macet. Sebagai komuter yang setiap hari melintasi Jalan Raya Serpong saya selalu mendapati pemandangan di mana para penyeberang jalan kesulitan untuk menyeberang jalan. Ada tiga lajur di sisi kiri dan tiga lajur di sisi kanan sepanjang Jalan Raya Serang. Jalan selebar itu membuat kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi pada saat jalanan tidak macet. Penyeberang jalan tidak akan pernah menyeberang apabila harus menunggu jalanan benar-benar sepi. Sebaliknya, apabila nekad menyeberang, dia akan menghadapi resiko tertabrak kendaraan yang lewat.Saya memandang Pemerintah Kabupaten Tangerang perlu untuk membangun Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Raya Serang. JPO tersebut akan memberi fasilitas penyeberangan yang nyaman bagi penyebrang jalan dan memberikan pengalaman berkendara yang nyaman bagi pengendara yang melintas di sepanjang Jalan Raya Serpong. Selain itu, bagi Pemerintah Kabupaten Tangerang sendiri, JPO dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan rutin dengan menyewakan ruang iklan di kedua sisi JPO. Tentu pemasang iklan akan selalu antri apabila JPO sudah berdiri mengingat sepanjang Jalan Raya Serpong banyak iklan luar ruang yang dipasang. Titik-titik yang memerlukan JPO di antaranya:

  1. Di depan TIFICO. Di lokasi ini banyak karyawan yang menyeberang jalan pada saat jadwal masuk dan pulang kerja.
  2. Di lampu merah Gerbang Gading Serpong. JPO dapat disatukan dengan JPO Tifico. Akan tetapi, kalau tetap akan dibangun sebaiknya dibangun dengan jarak minimal 200m dari lampu merah ke arah Serpong karena saat ini lampu merah Serpong merupakan titik kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh angkot-angkot yang ngetem di sana.
  3. Di depan Plasa Serpong.
  4. Di antara RS As-Sobirin dan Bunderan Alam Sutera
  5. Di Depan WTC Serpong

Tentunya perlu dilakukan studi kelayakan secara lebih bagus untuk melihat di titik-titik mana JPO perlu dibangun di sepanjang Jalan Raya Serpong. Pemerintah Kabupaten Tangerang tidak perlu menunggu sampai terbentuknya Kota Tangerang Selatan melalui sebuah Undang-Undang karena banyaknya tahap yang akan dilalui oleh pemerintahan baru Kota Tangerang Selatan yang nanti akan dibentuk. Pertama, Pemerintah Kota Tangerang Selatan harus membangun infrastruktur pemerintahan, di antaranya membangun Pusat Pemerintahan daerah (untuk Gedung Pemkot dan DPRD), melakukan pilkada, dan sebagainya, sehingga bisa-bisa JPO baru akan menjadi perhatian paling cepat lima tahun setelah diundangkannya pembentukan wilayah Kota Tangerang Selatan. Padahal, JPO saat ini sudah dibutuhkan oleh masyarakat. Selain JPO, yang perlu diperhatikan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tangerang adalah adanya lubang-lubang di Jalan Raya Serpong yang sangat berbahaya bagi para pelintas. Umumnya, lubang-lubang tersebut berada di lajur paling tengah baik di jalur arah ke Serpong maupun jalur arah ke Tangerang. Oleh karenanya, bagi para pelintas saya anjurkan untuk memilih lajur di sisi pemisah (separator) maupun sisi tepi jalan yang tidak ada lubangnya. Tentunya, di malam hari kewaspadaan perlu lebih ditingkatkan karena seringkali munculnya lubang baru sangat cepat dan tidak kita sadari.

9 Responses to “Perlunya JPO di Jalan Raya Serpong”

  1. kw on March 18th, 2008 5:55 am

    betul, aku gak nemu jembatann penyeberangan waktu itu. pernah sii ke serpong, bsd terus ke arah ( ngga tahu). melewati jalanan berdebu karena ceceran pasir yang di jual di sebelah kanan kiri jalan. untung ada pedagang kaki lima yang jual kaca mata murah.

    komplainnya ke pengembang kali ya?

    [Balas]

  2. Payjo on March 18th, 2008 9:48 am

    Betul Oom.
    Saya paling sering nyebrang di As-shobirin sama di WTC Serpong. Parah banget, mobil-mobil kenceng semua.

    Pernah sampe 20 menit nggak bisa nyeberang.

    [Balas]

  3. Triyani on March 18th, 2008 11:24 am

    Mudah2an didenger sama pihak yang berwenang..
    sedih banget kalo mau nyebrang di jln raya serpong. Kalo depan WTC matahari, depan serpong plasa masih mending ada pak satpam yang bantuin pejalan kaki.. kalo di titik2 lainnya… bahkan sudah diatas zebra cross saja.. masih ga bisa nyebrang krn mobil + motor pada ngebut :(

    kalo ada JPO lebih nyaman…
    sambil berdo’a mudah2an setelah ada JPO fungsinya bener2 buat jembatan penyeberangan :)

    [Balas]

  4. arif on March 22nd, 2008 7:13 pm

    Bupati dan Wabup baru kan sudah dilantik. Mudah-mudahan mereka mau mendengar.

    Bagaimana kalau kita surati secara resmi?

    [Balas]

  5.   Kemacetan Jalan Raya Serpong — www.serpong.org on April 5th, 2008 3:02 am

    [...] Terlepas dari bergabai upaya yang akan dilakukan, yang jelas sampai hari ini jalan tersebut masih macet dan mudah-mudahan pemerintah dan swasta dapat secepatnya mengurangi kemacetan di jalan protokol tersebut. Pembangunan Jl. Tol Alam Sutera juga diperkirakan akan mengurangi beban Jalan Raya serpong ini sehingga dapat mengurangi kemacetan. Selain masalah kemacetan, masyarakat Serpong saat ini juga dihadapkan pada bahaya pada saat menyebrang jalan raya Serpong. Sebuah ulasan menarik dibuat oleh Moh. Arif Widarto seorang warga Tangerang dalam tulisannya tentang perlunya Jembatan Penyebrangan orang di Jalan raya serpong ini.  [...]

  6. Iwan Catur Kusworo on May 10th, 2008 10:24 am

    Saya juga sangat setuju dengan usulnya untuk pengadaan JPO di Jl Raya Serpong. Buset dah.. kendaraannya kenceng-kenceng. Hari ini saya baru pertama kali ke daerah sini, nganterin istri yang ada keperluan di gedung Adira Finance. Sambil nunggu saya nyari warnet… nemu.. tapi mesti nyeberang jalan dulu. Dari awal saya memang sudah bertanya-tanya.. jalan selebar dan seramai ini masa gak ada jembatan penyeberangannya sih… tapi emang bener gak ada.. Wah.. akhirnya, berjuang untuk menyeberang.. Alhamdulillah saya berhasil sampai seberang dengan selamat dan bisa memberikan comment di sini.
    Salam kenal..

    [Balas]

  7. irwan pahlipi on November 3rd, 2008 10:10 am

    Soal kemacetan memang sudah menjadi ciri serpong saat ini, gak cuma di jembatan kebon nanas nuju Tangerang/tol saja, tetapi melingkupi seluruh wilayah sibuk kab tangerang. Bukan cuma kondisi jalan rusak, sempit, dan fasilitas seperti JPO yang yang memang gak ada, tapi juga mental pemakai dan aparat. Kita bisa lihat kemacetan dari mulai simpang puspiptek/muncul, setiap hari macet panjang. Dulunya dari simpang viktor yang sering macet, tapi karena jalan viktor-ciater rusak tahunan dan makin parah, arus tumpah semua ke muncul. Kalo kemacetan akibat jalan sempit, ada benarnya juga, tapi bisa juga jalan yang dipersempit akibat banyak yang parkir/berhenti di tengah jalan. Dulu simpang muncul sempit, setelah diperlebar tetap macet karena banyak yang parkir, berhenti, muter di persimpangan. Contoh lain, di seberang depan ITC-BSD, sebegitu lebar jalannya kadang macet juga hanya akibat ber-tumpuk2nya angkot parkir nunggu penumpang, parkir di 2 jalur, posisi malang melintang, dan dari parkir saat jalan lagi langsung masuk jalur kanan tanpa pertimbangkan kendaraan lain yang lagi melaju. Ini makanya sering dijaga satpam di sana, juga dikasih pembatas. Hal ini juga dapat ditemui di depan WTC, TIFICO, Giant, dll.
    Hal lain penyebab macet adanya U-turn di sekitar WTC dan BJ Mart BSD, banyaknya kendaraan terjebak karena kebiasaan jalan di jalur kanan, ternyata ada barisan yang mau muter di U-turn, akhirnya maksa kembali masuk jalur tengah, bertumbukan dengan yang ada di jalur tengah tsb, akhirnya macet. Kebiasaan jelek lain, mau muter di U-turn, tapi ambil jalur tengah sehingga menghambat semua kendaraan di jalur tengah tsb. Kelakuan menyebalkan ini mengherankan, sering dilakukan oleh orang2 yang bermobil cukup mahal, tapi kelakuan kayak tukang becak.
    Yang paling sering ditemui dimana2 adalah angkot yang berhenti mendadak di tengah jalan, kendaraan lain suruh tunggu atau keluarkan tangan nyuruh kendaraan lain ber-jejal2 masuk ke jalur kanan , atau maksa kendaraan lain masuk ke jalur berlawanan (di serpong banyak jalan 2 arah tanpa pembatas). Karakter ini dapat ditemui di hampir semua wilayah Tangerang kita ini. Mbok ya minggir aja jangan di jalan, tunggu penumpang sampe pagi juga gak apa, tapi jangan ngetem di tengah jalan, kan ganggu kendaraan lain. Saking egoisnya, sudah di tengah jalan, maksa orang lain masuk jalur berlawanan, kadang kendaraan lain ngalah, bahkan gak nglakson mungkin sudah cape karena sudah jamak perilaku tsb, tapi kan mesti nuggu jalur lawan sepi supaya bisa masuk, tapi si angkot malah marah2 karena semua kendaraan di belakangnya gak nurut perintahnya, mestinya begitu dia nyuruh masuk jalur berlawanan, semuanya mesti manut langsung jalan masuk jalur berlawanan meski jalur tersebut lagi ramai, meski beresiko tabrakan atau bikin macet. Kebiasaan lain, angkot kalo lagi nyari penumpang berjalan amat pelan, mungkin 5km/jam, padahal jalanan sempit. Atau suka jalan mundur lagi. Gak peduli samasekali sekelilingnya, mungkin mereka berasumsi, kalo gak ngawur, gak rebutan, gak zalim, ya gak dapat makan. Sebagai penumpang terusterang saya cape kalo sering berhenti, mundur lagi, ngetem, jalan pelan banget, kapan nyampenya, belum sering diakal2i onglkosnya, gak jelas, kadang kembalian dikurang2i, makanya lebih baik beli sepedamotor, mungkin juga sebagian besar orang lain berpikir seperti ini daripada cape duit cape hati, tapi sering ada ketakutan juga dengansegitu banyak sepedomotor penuhi jalan, sebagian besar gak mau tertib, kadang dengan segala kebrutalannya juga.
    Karena itu wajar sepedamotor menjadi penyebab macet juga. Sepedamotor sering masuk jalur berlawanan, nyerobot antrean di simpang bahkan di depan hidung polantas cuek aja, atau penuhi jalur berlawanan waktu sedang tunggu lampu merah, bahkan gak mau kurangi kecepatan atau berhenti untuk kasih orang lain menyeberang, baik pejalan kaki ataupun kendaraan lain, meskipun kendaraan lain sudah kasih jalan. Benar2 seperti air, semua tempat kosong diisi. Sering membingungkan mereka ini seharusnya jalan di kiri atau di kanan sih, sering kita temui sepedamotor masuk dan jalan di jalur berlawanan, ada di sebelah kanan dan kiri kendaraan yang sedang berjalan di jalur tsb. Sepedamotor tidak pernah takut kecelakaan, seenaknya jalan di jalur berlawanan, begitu ada kendaran lain di jalur itu, cukup sedikit goyang tapi tetap di jalur berlawanan, atau maksa kendaraan tsb minggir, itu kalo gak ada sepedamotor juga di kiri kendaraan tadi. Kebiasaan lain adalah motong kendaraan lain baik dari kiri maupun dari kanan, mendadak, ngebut. Gerombolan sepedamotor seperti di film mad max menjadi sosok mengerikan, seruduk2, selap selip, bukan hanya jadi momok bagi pengendara mobil saja, tapi juga bagi pengendara sepedamotor spt saya, yang mencoba berkendara dengan akal sehat dan aman.
    Pejalan kaki juga punya kontribusi bikin macet, pada tempat2 yang mudah nyeberang, benar2 seenaknya nyeberang, bahkan tanpa melihat kiri kanan.
    Dan yang juga bikin macet terutama di jalan2 sempit adalah truk raksasa sebesar dinosaurus, dengan muatan lebih tinggi dari baknya, biasanya truk tanah. Karena muatan berlebih, jalannya amat pelan, body amat besar menyulitkan kendaraan lain mendahului, sambil tumpahkan tanah2 ke sekeliling. Kalo di jalan yg lebar dikit, langsung booking jalur paling kanan langganannnya, semua harus maklum dan ikuti aturannya. Tapi kalo lagi kosong, mau secepat2nya, semua harus minggir kasih jalan mereka. Dengan muatan seberat itu, sangat wajar jalan2 di serpong langsung rusak lagi meski baru diperbaiki.
    Selama ini infrastruktur yang selalu disalahkan (memang salah juga), sering fasilitas diperbaiki untuk ‘menyelamatkan’ kebiasaan buruk yang gak pernah mau berubah, contohnya fly over ciputat. Intinya satu, gunakan akal sehat di jalan raya, jangan egois mau seenaknya. Petugas sudah gak bisa diandalkan untuk jaga ketertiban, bisa jadi juga framethought-nya juga gak nyampe. Contohnya, yang bikin macet di depan hidungnya, akibatnya yang digerak2 suruh jalan, mana mungkin arus kendaraan bisa jalan kalo angkot berhenti di tengah jalan, kan kelihatan di depan matanya penyebabnya. Sering banyak yang komentar, sudah jangan saling salahkan, cari aja solusinya. Bener juga, kalo ada angkot berhenti di tengah jalan, jangan disalahkan, cari solusinya supaya gak macet, usahakan kendaraan di belakangnya masuk jalur lawan berjejal2 dengan dari arah lawan, yang penting meski susah payah masih bisa jalan, inikan solusinya supaya gak macet total, setidaknya sampe si angkot bersedia jalan lagi dengan legowo. Kalo gak boleh nyalahkan, ya jangan juga nyalahkan infrastrukturnya, cari aja solusinya. Negeri ini, bangsa ini, baik kalangan jelata hingga elit, gak pernah mau nyalahkan atau disalahkan, atau nyari kesalahan yang membuat masalah itu ada, cukup akibatnya aja dicoba cari jalan keluarnya, tanpa perlu mencabut akar masalahnya, karena itu masalah gak pernah selesai, hanya mencoba berkelit dari akibatnya. Jadi, kalo anak panas akibat radang, makanya dikompres saja, atau makan obat penurun panas, tapi radangnya gak perlu diobati. Karena memang gak mau berubah perangai, gak mau nyadari kesalahan, gak perbaiki diri maupun kolektif. Jadi selamanya akan banyak masalah yang itu2 aja, gak selesai2, padahal masalah lain tetap akan timbul, menambah masalah yang sudah ada yang gak ada juntrungannya akan selesai.

    [Balas]

  8. Hati-hati Melintas Di Jalan Raya Serpong Pada Musim Hujan at Komunitas Bloger Benteng Cisadane on February 5th, 2009 4:00 pm

    [...] ramai dengan kendaraan yang melintas. Mengingat padatnya jalan ini, saya pernah menulis mengenai perlunya dibuat Jembatan Penyeberang Orang di jalan ini, terutama ruas-ruas jalan yang banyak diseberangi oleh [...]

  9. JPO Baru di Jalan Raya Serpong : Bloger Tangerang on April 22nd, 2010 7:06 am

    [...] juga bergembira karena apa yang pernah ditulis di website KBBC ini pada 18 Maret 2008 mengenai perlunya JPO di Jalan Raya Serpong telah mulai diwujudkan oleh Pemkot Tangerang Selatan sejak [...]

Got something to say?