Bocah SD Jadi ‘Pengamat’ Pilkada Tangerang Selatan
Pesta demokrasi memilih calon Walikota dan wakil Walikota Tangerang Selatan dimulai serentak pukul 07.00 WIB, Sabtu, 13 November 2010. Warga dari tujuh kecamatan berangsur datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menentukan suara terbanyak dari empat kandidat yang bersaing. Mereka saling menganalisa, bertukar pendapat, bahkan adu lelucon memaknai momentum pertama kalinya tersebut.
Rizka, siswa kelas VI SDN Bambu Apus II Pamulang, melintas lincah. Ia mengamati poster-poster profil kandidat yang terpasang pada papan kayu di TPS 5, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Pamulang, sambil sesekali mencatat sesuatu pada buku tulisnya yang bersampul cokelat.
“Ini tugas dari sekolah,” ujarnya mengenai pe’er (Pekerjaan Rumah) Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Catatannya berupa sejumlah halaman, terdiri dari profil calon Walikota dan wakil Walikota Tangerang Selatan, denah TPS, sampai janji-janji kampanye setiap kandidat. Uniknya, ia membagi ‘catatan lapangannya’ tersebut ke dalam dua bagian, yaitu masa kampanye dan saat pemilihan berlangsung. Tahap-tahap bagi seorang pemilih tetap di TPS pun ia urutkan secara tepat, dari mulai menukar kartu Daftar Pemilih Tetap (DPT) kepada petugas sampai mencelupkan tinta tanda telah memilih satu kali. Halaman terakhir adalah bagian khusus tentang hasil akhir penghitungan suara di TPS tersebut.
“Aku lihat aja kalau kebetulan lewat. Kalau nggak pernah liat, ya lihat-lihat gambarnya aja yang ditempel-tempel,” katanya ketika ditanyakan mengenai sumber janji-janji kampanye setiap kandidat yang ia tulis.
Akibat perbuatannya itu, Rizka menjadi ‘saksi’ bagi saksi-saksi resmi para kandidat di TPS tersebut. “Yah, ini gimana, saksi kok kalah sama anak SD? Tuh, Rizka aja udah selesai dari tadi,” sindir salah seorang saksi dari calon pasangan Arsid-Andre kepada seorang temannya, saksi dari calon pasangan yang sama. Para warga yang ada di sekitar TPS pun tertawa.
Saksi Independen
Catatan Rizka boleh jadi merupakan alarm paling penting bagi para kandidat yang akan terpilih nanti sebagai wali kota dan wakil walikota serta warga Tangerang Selatan secara umum. Di luar kebutuhannya sendiri untuk memenuhi tugas sekolah, Rizka terbukti menjadi wajah partisipasi warga yang cukup aktif sejak dini. Bukankah murid SD perlu kemauan serta keberanian kuat untuk merangkum proses otonomi daerah yang ‘melelahkan’ tersebut? Tentu saja partisipasi tidak akan pernah benar-benar terwujud jika cuma didorong oleh iming-iming uang, janji muluk, atau imbauan, seperti yang selama ini banyak dilakukan oleh calon pemimpin di Indonesia. Alih-alih meningkatkan partisipasi warga, tindakan seperti itu justru lebih banyak hanyalah jubah dalam rangka mengejar kekuasaan semata.
Rizka, si gadis cilik itu, datang bukan karena diberi honor, bukan karena ia pendukung salah satu calon, bukan karena ia masuk daftar pemilih, bahkan bukan satu-satunya murid yang diberikan tugas oleh gurunya untuk mengamati pilkada. Temannya, yang datang di akhir penghitungan dan mendapatkan tugas yang sama dengan dirinya, tidak sempat melihat jumlah suara perolehan setiap kandidat. Disarankan untuk melihat catatan milik Rizka, ia menjawab, “yah, tapi kan engga boleh nyontek!”
Hasil penghitungan suara di TPS 5, kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Pamulang, menyatakan pasangan Arsid-Andre unggul dengan 149 perolehan suara, disusul pasangan Airin-Benyamin 67 suara, pasangan Yayat-Norodom 11 suara, dan pasangan Rodiyah-Sulaiman 5 suara. Sayangnya, pasangan yang dijagokan Rizka, Airin-Benyamin, kalah. Kenapa calon pasangan tersebut? “Soalnya, kan, dia yang bangun Jalan Gurame III (salah satu jalan utama desa) kata orang-orang,” ujarnya polos.
Related posts:







Anak-anak SD apabila dijadikan pengamat akan lebih jujur dalam melihat dibandingkan para pengamat politik yang sudah dewasa.
Setuju. Tapi paling gampang kalo di suruh pronya bahkan minim biaya cuma di jajanin 1000 ja da cukup kalo dewasa bisa 50rb keatas