Dulu Mereka Sebut Namanya ‘Kota Copet’
Saya cukup kebingungan mencari asal-usul Tangerang, sampai ada istilah Kota Benteng, China Benteng dan sebagainya. Memang sulit, mungkin karena tidak banyak yang menulis soal Tangerang. Tapi akhirnya ketemu juga. Tapi bukan itu yang saya bahas, tapi soal lain.
Minggu lalu saya berkumpul dengan beberapa teman di bantaran Cisadane, Tangerang. Tempat itu memang favorit aku beberapa tahun ini – sebenarnya dari dulu. Singkat cerita di obrolan bersama teman saya itu saya teringat soal masa kecil.
Saya teringat dengan cerita beberapa kawan semasa kuliah tahun 2004. Saat itu teman saya bilang, “Tangerang beda, sudah rapih, dan aman.” Saya bertanya kenapa bisa bicara itu? Ada apa dengan Tangerang dulu?
Teman saya itu bercerita kalau Tangerang dulu akhir 90-an begitu banyak copet, bahkan tindak kejahatan begitu tinggi. Banyak preman yang di dua pasar utama, Pasar Anyar dan Pasar Lama. Dua pasar itu menjadi sentral perdagangan. Tapi teman saya itu memang tidak menujukan sebuah data tertulis soal tindak kejahatan yang banyak, tapi dia melihat secara kasat mata.
Ingat cerita itu baru-baru saya sadar semasa kecil. Di sepanjang jalan pasar di Tangerang begitu banyak praktek judi, bahkan siang hari. Ada juga pedagang prabotan lelang, di sana saya pernah ‘dibetak’ (istilah tindak kejahatan dengan dimintai barang atau uang secara paksa). Tapi saya tidak banyak mengalami tindak kejahatan itu.
Tapi ada satu hal yang menarik, dia menyebutnya ‘ekspor copet’.
Begitu banyaknya pencopet di Tengerang saat itu, menurut teman saya, tidak lain pebuatan elit politik saat itu. Saya disebutkan siapa saja, tapi tidak akan saya sebut. Ada semacam pergolakan politik daerah di era akhir 90-an saat itu. Para elit politik dan tokok Tangerang membuat ide, Tangerang akan dipecah. Hal itu dikarenakan adanya mosi tak percaya pada pemerintahan itu, sehingga intelektual, tokoh masyarakat, dan elit politik (pengusaha) bergerak untuk membuat semacam perubahan.
Secara garis besar, intelektual seperti mahasiswa, aktivis, dan para pelajar bergerak untuk membuat ‘gerakan masa depan’. Tokoh masyarakat bergerak untuk mempertahankan posisinya di lingkungannya. Sedangkan elit politik atau bahasa mudahnya adalah pengusaha berusaha memperluas jaringannya.
Related posts:
5 Comments
Trackbacks/Pingbacks
- Mengapa Aceh di sebut serambi mekkah? | Indonesia Search Engine - [...] Dulu Mereka Sebut Namanya 'Kota Copet' – Blogger Tangerang [...]





Horee akhirnya dipost juga
ini yang dibahas waktu itu ya?
Tahun 1990-an di Tangerang sepertinya memang banyak preman. Di Terminal Cimone pun premannya banyak sekali. Saya ingat karena dulu saya selalu pulang kampung ke Sleman via Terminal Cimone, menumpang PO Ramayana.
wah… perlu di teliti dulu nich…apa benar??? tapi ya sudah lah ..itu khan masa lalu…sekarang tangerang sudah berbah menjadi kota penyanggah ibukota….tapi waktu saya dulu ke tangerang sebelumnya benteng..waktu itu saya sama orang tua naik oplet dech ..wah masih sepi dari cikupa ke tangerang dulu 2 jam karena mobilnya omplet , sama andong.
masa lalu, om yang penting sekarang udah damai. sekedar kita tahu aja