Hidup Seperti di Singapura di Tangerang
Siang yang tidak begitu terik menghantarkan saya ke meja redaksi Kantor Berita Radio 68H (KBR68H) di Utan Kayu, Jakarta Timur. Seperti biasa juga kapsul yang berisikan kopi hitam selalu saya jinjing. Bercelana pendek dan berkaos hitam, saya biasa begitu jika Minggu atau Sabtu di kantor. Kebetulan tidak banyak karyawan, hanya beberapa orang yang mengawal pemberitaan akhir pekan.
Begitu masuk depan studio utama, saya melihat Kompas (16/10/11). Di halaman 12, ada foto-foto kehidupan masyarakat Jepang di Ginza, kota bisnis Jepang. Foto itu menggambarkan orang-orang beraktifitas dengan mengandalkan fasilitas umum. Misalkan trotoar dan kereta bawah tanah. Ehm, tiba-tiba saya teringat dengan Singapura, yah seperti itulah di Ginza. Masyarakatnya mengandalkan kereta bawah tanah atau MRT untuk berpergian, bahkan untuk bekerja sekali pun. Mengapa? karena fasilitas publik di Singapura begitu tertata.
Apakah Tangerang bisa?
Sudah setahun ini saya mengikuti wacana pemerintah DKI Jakarta ingin menghubungkan TransJakarta hingga sampai kota penyanggah Ibukota, salah satunya Tangerang. di Jalan Daan Mogot sudah terpasang Bus line, tapi yang melewati baru bus-bus antar kota antar provinsi. Begitu juga di Terminal Poris Plawad, Tanah Tinggi sudah terpasang halte bus seperti TransJakarta. Jika itu terealisasi, mungkin saya akan ke kantor naik angkutan umum. Karena kebetulan kantor saya dekat hatte TransJakarta Rawamangun Utan Kayu.
Sebenarnya gaya hidup seperrti di Singapura yang pernah saya alami, atau saya lebih suka menyebutnya ‘gaya hidup hijau’ di Tangerang sangat mungkin. Sudah ada kok, misal di Karawaci, Pasar Anyar, dan Serpong. Saya suka sekali berjalan kaki kalau ke kawasan Lippo Karawaci, atau wisata kuliner di Jalan Kisamaun Pasar Anyar.
Namun untuk menuju ke sana, saya lebih memilih menggunakan motor dan diparkir di sebuah tempat. Mengapa? Transportasi di Tangerang belum membuat saya beralih ke transportasi publik untuk beraktivitas.
Mengapa?
- Angkutan kota di Tangerang banyak, tapi memboroskan karena jarak tempuhnya pendek. Sehingga membuat boros pengeluaran karena harus berganti-ganti angkutan.
- Angkutan kota di Tangerang membuat tidak aman karena supir-supir yang tidak tertib. Bahkan banyak yang yang saya lihat supir angkot yang dibawah umur. Apakah mereka mempunyai SIM?
Namun demikian bergaya hidup hijau di Tangerang harus terus dicoba.
Related posts:
2 Comments
Trackbacks/Pingbacks
- Hidup Seperti Di Singapura Di Tangerang Kbbc Komunitas Bloger | Tempat Wisata Indonesia - [...] kuliner di Jalan Kisamaun Pasar Anyar. Namun untuk menuju ke sana, saya lebih Baca Selengkapnya: http://blogerbenteng.com/2011/10/16/hidup-seperti-di-singapura-di-tangerang/ ...
- Hidup Seperti Di Singapura Di Tangerang Kbbc Komunitas Bloger | Tempat Wisata Indonesia - [...] kuliner di Jalan Kisamaun Pasar Anyar. Namun untuk menuju ke sana, saya lebih Baca Selengkapnya: http://blogerbenteng.com/2011/10/16/hidup-seperti-di-singapura-di-tangerang/ ...





Soal transportasi umum, menurut saya sih yang paling efisien ya kereta. cepat, sekali jalan, memuat banyak penumpang.. andai jalur kereta dan fasilitas kereta disini kayak di Jepang atau Singapura sana
Saya yakin apabila pemkot Tangerang mau membuat kebijakan revolusioner untuk memperbaiki transportasi publik maka hal itu dapat diwujudkan.