Kalau Belum Nge-Maicih Gimana Gitu…
Maicih, keripik singkong asal Bandung ini memang sudah dikenal di mana-mana. Tapi mungkin maksud saya hanya di kota besar saja. Tidak ada yang berbeda dengan keripik singkong lainnya selama ini, tapi Maicih memberikan rasa pedas yang asli. Bahkan pedas seperti memakan cabai. Saya pun suka rasanya.
Kepupuleran Maicih sudah terdengar di Tangerang selama kurang lebih 3 bulan ini. Bahkan marketing Maicih yang dikenal agak ekslusifitas itu sudah dijebol. Banyak yang menjual Maicih di Tangerang.
Jika Anda melewati SMA 5 Perum, Karawaci, Tangerang, ada satu Honda Jazz terparkir di sana. Nah, mobil itu menjual Maicih. Tapi saya tak tahu berapa harganya, tapi yang pasti agak lumayan mahal. Lalu di depan penjara wanita, LP Wanita di Cikokol pun ada mobil yang terparkir di sisi jalan. Di sana juga menjual Maicih.
Lalu,
Beberapa hari lalu saya tengah makan batagor di Depan SMA 5. Ada 5 siswi berkumpul yang juga tengah makan batagor.
Siswi 1: “Eh, gue mau beli Maicih nih. Lu mau nggak?”
Siswi 2: “Nggak ah, nggak punya duit, mahal sih. Besok ajalah.”
Siswi 3: “yah nggak asik bener lu. Kalau gue sih sekarang kalau nggak makan Maicih gimana gitu.”
Siswi 4: “Iya lu nggak asik, kalau gaul ah nggak makan Maicih.” (Sambil tertawa)
Siswi 1: “Udah ah, pada mau nitip nggak?”
Akhirnya si Siswi 2 ikut membeli.
Saya melihat fenomena di antara mereka. Maicih telah mengubah sudut pandang mereka tentang tujuan memakan makanan ringan.
Sekalas anak SMA memang sulit menebak soal motif dan tujuan menikmati makanan. Ada yang untuk membuat kenyang, dan ada juga yang ingin mendapatkan prestisius atau pengakuan di antara sesama. Nah, sekarang lihat di Maicih dan siswa/i SMU, semisal SMU 5 Tangerang.
Saya sedikit menganalisa Maicih sebagai makanan prestisius dengan bantuan nama Bandung sebagai kota ‘membanggakan’. Itulah kira-kira yang diinginkan Maicih membidik pasar kalangan muda di luar kawasan Bandung. Anak muda yang memakan Maicih akan merasa bangga, prestisius (seperti makan ice cream), dan tentunya ‘gaul’. Mengapa? Tentu saja karena popularitas dan imej Kota Bandung sendiri.
Tapi itu sama sekali tak salah, hanya saja kebanggaan Maicih harus diimbangin dengan realitis rasa dan harga. Harus enak dan terjangkau.
Related posts:





Kemaren barusan nyobain. Level 3 aja pedes gimana level 10 ya.
Katanya emang gak ada tokonya yah jadi semacem agen2 aja yg jual
saya malah baru baru ada makanan yang namanya maicih hahaha tak kira nama orang
Lah, sma 5 sekolah gue tuh? Emang ada yang jual ya? Sebelah mana?