Tips Membeli Rumah: Perspektif Rumah
Hallo BlogerBenteng,
Akhirnya saya memutuskan untuk membangun ‘istana kecil’ di Barat Tangerang. Sebanarnya sudah sejak lama ingin membeli rumah, cuma baru kali ini ada ‘niat’. Hehehe, tapi nggak juga sih, baru kali ini juga ada dorongan seorang teman di Redaksi KBR68H, namanya Yudi Rachman. Dia juga jurnalis di sana. Tadinya saya ingin membeli di kawasan Depok atau Cibubur, tapi ternyata belum ada yang cocok.
Ehm, apa aja sih yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih rumah? Nih saya kasih infonya. Oh iya, tulisan ini akan bersambung yah, mengikuti perjalanan pengalaman saya.
Perspektif Rumah
Awalnya saya merasa berat membeli rumah di kawasan dekat rumah orangtua di Cipondoh, Tangerang. Hanya satu hal yang diberatkan, yaitu harga rumah yang mencapai Rp 250 jutaan lebih. Saya pernah mengajukan kredit pinjaman ke Bank BTN, wah bisa sih saya dikasih Rp 200 juta. Tapi uang bulanan yang harus dibayar sekitar Rp 1,7 juta perbulan. Ehm… uang dari mana?
Akhirnya saya memutuskan untuk menunda saat itu. Tapi agak menyesal sekali, karena memang rumah orangtua saya itu sudah dekat dengan fasilitas umum dan angkutan umum yang memadai. Dekat dengan terminal, dan tentunya sudah ramai. Satu hal lagi, rumah orangtua saya dekat dengan mini market yang selalu menjadi andalan saya untuk membeli keperluan sehari-hari, terutama kopi. Harga yang murah menjadi pilihan itu.
Okay, tunda dan tunda…
Akhirnya selepas saya pindah kantor dan memulai hidup baru dan pekerjaan baru, saya banyak membaca buku soal gaya hidup di negara-negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika Serikat. Selain itu saya beberapa kali mengikuti diskusi soal gaya hidup hijau, termasuk konsep rumah di masa kampanye hijau di dunia.
Dalam konsep pembangunan sebuah kota, idealnya terbagi menjadi 6 kawasan. Yaitu industri, pemerintahan, perbisnisan, hunian, perdangan, dan hutan kota. Kelimanya harus dibangun secara terpisah, dengan tujuan pembangunan tidak berantakan dan sentralistik. Pemisahan itu juga akan memberikan nafas untuk ruang-ruang yang membutuhkan kebersihan lebih dengan bebas dari polusi.
Masalah jarak, di zaman yang terus berkembang itu bukan masalah. Di Amerika Serikat pun kebanyakan warganya tinggal di kawasan perumahan yang jauh dengan kawasan perbisnisan dan perbelanjaan. Jika ingin dekat dengan kawasan perbisnisan, warganya harus tinggal di apartemen. Hal yang sama terjadi di Jepang.
Bagaimana dengan di Jakarta? Jakarta sebagai pusat bisnis, perdagangan, dan industri sudah carut marut ditambah dengan kawasan hunian. Rasanya punya rumah di Jakarta di pusat Ibukota itu masih menjadi gaya hidup yang membanggakan. Apa enaknya? Suasana yang ada hanya bising, melihat kerepotan orang, dan carut marut transportasi.
Mengapa tidak tinggal di kota penyanggah Ibukota? Depok, Bogor, Bekasi, atau Tangerang? Jauh? Ayolah, jarak bukan menjadi masalah karena sudah ada kendaraan dan teknologi semakin canggih.
Rumah, pada dasarnya adalah istana untuk melepaskan diri dari kepenatan pekerjaan (di kota besar). Rumah sebagai ajang ekspresi diri dan keluarga dalam berkarya, dan rumah juga sebagai tujuan akhir dari rutinitas. Menapa tak memilih rumah yang nyaman dengan konsep ‘kembali ke alam’ dan ‘bergaya lingkungan’?
Related posts:






Pengalaman yang menarik!
Membeli rumah harus dengan niat yg kuat.
Pertimbangan memang sangat diperlukan, tetapi terlalu lama menimbang, maka anda tak akan pernah punya rumah.
artikel yg menarik bung.
‘wah bisa sih saya dikasih Rp 200 juta. Tapi uang bulanan yang harus dibayar sekitar Rp 1,7 juta perbulan’ kok kecil banget suku bunga kreditnya ? setahun pertama saja kali ya ? habis itu meroket