Tangerang Raya

Mengapa Harus BlackBerry?

Sembari menyeruput kopi di kamar kost mata saya tak hentinya tertuju pada link di status facebook seorang teman. “Ten Reason Why BlackBerry Is Screwed”, begitu tulisan yang tertera di statusnya saat saya baca tadi pagi.

Saking penasarannya langsung menuju tekape. Sebenarnya ada apa dengan produk Research In Motion (RIM) ini. Tautan ternyata bersumber dari halaman mobile Gizmodo.com. Bermodal bahasa Inggris pas-pasan saya baca satu persatu dari “10 Reason” tadi. Setelah puas membaca – semoga terjemahannya tidak salah – dengan gadget tercinta dan browser Operamini yang ukuran tulisannya membuat dahi berkerut saya simpulkan jika BlackBerry (selanjutnya disebut BB) mulai dipecundangi oleh pesaing-pesaingnya. Pun halnya disebabkan keluhan dari developer, pasar, dan konsumen.

Berikut beberapa kutipan dari laman mobile Gizmodo yang (berhasil) saya baca :( :

Tidak ada produk baru hingga musim panas akhir Agustus 2011.

Opini saya:

  • RIM kalah inovatif dengan produk-produk kompetitornya. Selain fitur dan juga penampilan fisik yang monoton.

Dunia aplikasi BB seperti kota hantu: Aplikasi BB diawali tahun 2009 dengan 26 ribu aplikasi sampai kurun waktu April 2011. Android yang baru seumur jagung sudah melampaui angka 200 ribu. Sedangkan iOS jauh melesat hingga 350 ribu. Lebih penting lagi adalah angka dari jumlah aplikasi yang berkualiatas.

Opini saya:

  • Dengan jumlah begitu banyak harus susut sekian persen jika menganulir aplikasi dengan mutu yang tidak signifikan. Bagaimana dengan jumlah 26 ribu?

Pihak pengembang (developer) tidak suka membuat aplikasi BB: Ini merupakan pertanda buruk ketika ada developer yang menginginkan kode untuk platform anda, mengangkat tangannya (menyerah) dengan rasa benci dan berkata “berbeli-belit”. Jeleknya jika surat yang terpampang di internet terlalu banyak syarat gono-gini dalam kesepakatannya.

Opini saya:

  • Lebay! Era Open Source seperti sekarang ini ternyata ada pihak swasta yang sok prosedural, birokratis weberian (baca: kaku), dan takut merugi. Padahal “rugi” adalah kata lain dari “korban” dan (peng)usaha itu memerlukan pengorbanan.

Keruntuhan Finansial: Pendapatan RIM dalam kuartal terakhir (sejak tulisan ini dipublikasikan) lebih rendah dari yang diharapkan… harapannya jangan sampai berencana menggunakan stok produk RIM anda untuk membiayai masa pensiun.

Opini saya:

  • Kemana saja pendapatan dari penjualan BB yang begitu besar? Atau produk bajakan RIM banyak yang lolos dari pengawasan beacukai? Mungkin juga kalah bersaing dengan berrys serupa hasil industri rumah tangga dari Cina?

Bahkan pengguna BlackBerry tidak lagi menginginkan BlackBerry: Survey tahun sebelumnya menunjukkan lebih dari setengah pengguna saat ini akan beralih ke Android atau iOS.

Opini saya:

  • Bahkan privasi Obama pun makin terisolir dengan koleganya berkat fitur BBM.

Kepentingan perusahaan telah runtuh: RIM merupakan benteng besar dalam dunia korporasi, tapi daya cengkeramnya mulai hilang. Dahulu setiap orang mulai dari CEO hingga office manager RIM memiliki BB di pinggang mereka. Perlahan tapi pasti BB mulai tergantikan dengan iPhone dan Droid.

Opini saya:

  • Mike Lazardis sepertinya butuh pendampingan dari PNPM Mandiri, tentang bagaimana memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kepercayaan diri karyawan atas mutu produk-produk RIM.

Nah, beberapa kutipan tersebut saya tambahkan opini-opini pribadi. Bukan justifikasi, tapi lebih kepada kesadaran saya sebagai konsumen. Tanpa harus menunggu Menkom-Info kita nyeletuk soal konten porno dalam BB, RIM sejak pertama kali masuk bursa ponsel Indonesia sebagai produk impor sudah bermasalah dari segi pelayanan dan sektor pajak.

Idealnya tiap produk impor yang masuk harus memenuhi kriteria SNI. Namun kenyataannya produk RIM yang berhasil mempengaruhi sugesti pasar domestik justru masuk ke Indonesia melalui jalur distributor atau importir. Sedangkan produk sekelas BB dan smartphone lainnya minimal harus memiliki kendali mutu pelayanan dengan standar nasional:

Pertama, buku manual berbahasa Indonesia. Sebagian dari anda yang pernah membeli langsung dari gerai ponsel lokal saat pertama kali BB resmi dilempar ke pasaran Indonesia, coba dilihat lagi apa ada satu paragraf yang berbahasa Indonesia?

Kedua, customer representative minimal – jika tidak salah – di 5 (lima) kota besar. Pertama kali BB masuk pasar domestik hingga diperkarakan pihak Menkom-Info belum memiliki customer representative. Siapa yang dirugikan?

Diberlakukannya SNI terhadap produk impor bukan tanpa alasan. Ini merupakan bagian dari strategi kebijakan fiskal agar barang-barang impor dapat dikenakan pajak. Bayangkan pajak yang masuk kas negara saja masih bisa diselewengkan, siapa yang dirugikan? Masyarakat dan pemerintah. Apalagi jika kas negara minus karena kurang asupan dari sektor pajak, siapa yang dirugikan? Jelas masyarakat dan pemerintah, bahkan seorang koruptor kelas kakap pun akan kebingungan jika tidak ada pajak yang bisa diselewengkan.

Sebagai catatan, judul diatas merupakan gambaran sederhana atas meningkatnya kecenderungan konsumtif masyarakat. Trend BlackBerry merupakan sebagian kecil dari contoh kegagapan masyarakat terhadap problematika gaya hidup. Tidak melulu Blackberry, tapi juga Android, Nokia, Honda, Yamaha, Alphard, CRV, Intel, AMD, dan alat pemenuhan kebutuhan berbasis high-tech. Histeria massa (baca: ikut-ikutan) tidak hanya terjadi saat ada siswi kesurupan di sekolah-sekolah atau saat bintang panggung dielu-elukan penggemarnya, hukum ini juga berlaku bagi perekonomian khususnya terhadap rumah tangga masyarakat selaku stake holder. Trend konsumsi yang mempengaruhi tindakan/perilaku ekonomi masyarakat boleh saja menjadi bagian gaya hidup. Namun, kecermatan dalam memilih dan memilah barang konsumsi merupakan keharusan. Mana yang Need (kebutuhan) dan mana yang Want/Desire (keinginan, hasrat, atau bahkan nafsu).

Antara kebutuhan dan keinginan beda-beda tipis. Rumusan sederhananya adalah dengan melihat apakah jika kita menggunakan suatu produk high-tech bisa kita jadikan aset (efisien, efektif) yang menunjang produktifitas kerja atau malah sekadar liabilitas (gaya hidup, trend) yang membuat kita jadi konsumtif. Bahkan tidak jarang mematikan kreatifitas dan produktifitas kerja. Jika kita tidak bijak dalam memilih maka wajar saja jika indikator laju pertumbuhan ekonomi yang digunakan pemerintah saat ini adalah jumlah konsumsi dan bukan jumlah rata-rata angka produksi yang bisa dihasilkan penduduk setiap tahunnya.

Kesimpulan ada di tangan anda. Semoga anda menemukan relevansinya.

Wallahu’alam.

Related posts:

  1. Prof Dr. Sari : SBY Harus Bicara So’al Penghematan Air Tanah
  2. TMP Seribu Serpong, Mengapa Tak Ada Topi Bajanya?

8 Comments

  1. Jujur saya pun sudah bosan dengan BB. Sayangnya, banyak kontak saya yang masih pakai BB sehingga terpaksa saya pertahankan.

  2. Siap2 beralih ke Android… hehehe…

  3. sampai saat ini masih setia dengan hape jadul yang cuma mengandalkan java :mrgreen:

  4. saya sendiri pakai bb juga terpaksa karena di kasih :D , tapi hanya selang waktu bebe- rapa bulan saja ane udah gak betah menggunakan bbm-an dan membiarkan si bb jadi hp biasa yg gunanya buat sms dan telpon.

    setuju ama om kirman siap2 beralih ke android eh nunggu ada yg ngasih kaynya :P

  5. Saya suka tulisannya.

  6. Karena saya orangnya cepet bosen, makanya saya gak milih BB, tapi android yang open source dan bisa dikustomisasi semau kita :D

    kalau mau frontal, Satu-satunya, ya, satu-satunya daya tarik BB di mata saya (dan mungkin yang lain) hanyalah fitur BBM nya yang banyak dipake orang-orang :D

  7. tadinya pengen banget beli BB… setelah baca artikel ini jd ogah deh… thanks 4 infonya…

  8. sayangnya BB saya masih disegel di tokonya he…he..he…

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Twitter KBBC KBBC Facebook Group Join KBBC RSS Blogger Benteng
JADWAL TRANSPORTASI TANGERANG DAN SEKITARNYA

JADWAL KRL SERPONG - JAKARTA

NO. KA SRP KBY PLM THB KET
521 05:10 05:37 05:44 05:50 COM LINE
523 05:35 06:02 06:09 06:25 COM LINE
731 06:10 06:37 06:44 06:50 EKONOMI
JADWAL KRL JAKARTA - SERPONG
NO. KA MRI THB KBY SRP KET
5651/5652 04:40 04:55 05:05 05:29 COM LINE
5653/5654 05:30 05:45 05:55 06:19 COM LINE
522 - 05.55 06.09 06.36 COM LINE
Selengkapnya...

Jalur: BSD CITY – PD Indah Mal – Ratu Plaza – Plaza Senayan

JADWAL

HARI KERJA

HARI SABTU

HARI MINGGU

BSD CITY

RATU PLAZA

BSD CITY

RATU PLAZA

BSD CITY

RATU PLAZA

PAGI

05.30

06.30

07.00

08.10

08.45

09.45

05.50 06.50 07.30 08.40 09.30 10.30
06.10 07.10 08.00 09.10 10.15 11.15

SIANG

09.15

10.15

10.15

11.15

11.15

12.15

10.15 11.15 11.15 12.15 12.15 13.15
11.15 12.15 12.15 13.15 13.15 14.15

SORE

16.15

17.15

15.25

16.25

14.55

15.55

16.35 17.35 15.55 16.55 15.55 16.55
16.55 17.55 16.25 17.25 16.55 17.55
Selengkapnya...

Rute : Summarecon - BENHIL

Hari: Senin s.d Jumat

Hari: Sabtu

HALTE/SMS

BENHILL

HALTE/SMS

BENHILL

05:45

-

07.30

09.00

06.00 - 10.15 11.30
06.15 - 16.00 17.30
06.30 -
07.30 09,00
08.00 10.30
10.00 11.30
Selengkapnya...
Internet Sehat ASEAN Blogger Blogger Nusantara Topi Bambu