#31. Kopdar KBBC Bulan Juli 2010
July 23, 2010
Saudara-saudara, siap-siap untuk kopdar KBBC!
Setelah bulan lalu KBBC kopdar sambil jalan-jalan ke Rumah Dunia, untuk bulan ini kopdarnya berbeda karena KBBC bakal jalan-jalan! *Apa bedanya coba?*
Kali ini lokasi kopdar KBBC bertempat di daerah Citra Raya Tangerang. Bagi bloger yang kebetulan baca dan mau ikut, silahkan catet waktu dan tempatnya di bawah ini ya.
Nama Kegiatan: Kopdar Akhir Juli 2010
Lokasi Kopdar: Mardi Grass, Citra Raya Tangerang
Hari & Tanggal: Minggu, 25 Juli 2010
Waktu: 10:00 WIB – selesai
Nanti apa saja acara kopdar kali ini? Jadi kopdar kali ini diisi pembahasan untuk kegiatan KBBC bulan Agustus nanti, yaitu pelatihan blog. Setelah pembahasan itu, disambung dengan wisata kuliner karena di Mardi Grass banyak jajanan enak tapi murah. Kalo sempet, ada Water World yang harga tiketnya murah. Siapa tahu ada yang pengen berenang.
Okeh, sampai jumpa di sana!
Filed under: Blog, Bloger Benteng, Bloger Tangerang, Kopdar Bloger Tangerang, Kuliner, Project365, Tangerang
BAKSO ULEG, kuliner sehat ala Ibu Yoen
July 22, 2010
Kemarin sore, saya bareng teman muter-muter sekitaran Perumnas Tangerang. Belum makan siang, makannya jadi sore, bingung juga menu yang mau dipilih.
Di pinggir Jalan Pandan Raya, dekat Palem Semi Perumnas Tangerang ada tempat kuliner yang namanya cukup unik, Bakso Uleg khas Temanggung Bu Yoen sesuai dengan nama yang tertera di depan warung bakso milik beliau.

Saya kira bakso uleg itu bakso tanpa kuah yang disajikan seperti rujak uleg, ternyata perkiraan saya itu melenceng jauh. Bakso uleg yang disajikan Bu Yoen hampir sama dengan bakso-bakso yang lain, hanya saja sambal yang disajikan diuleg dadakan ketika kita hendak memesan, beberapa buah cabe yang diuleg/dihaluskan langsung di atas mangkuk.
Walaupun sajian utamanya bakso uleg, di warung bakso Bu Yoen menyediakan menu lain seperti kupat tahu, wedang ronde, es campur, dan minuman segar lainnya. Harganya relatif murah, dari Rp 2.500,- sampai Rp 7.000,-. Gak terlalu mahal kan?
Bu Yoen dan keluarga asli dari Temanggung – Jawa Tengah, dari tahun 1980 hijrah ke Tangerang. Cukup lama juga ya, sudah 30 tahun. Tetapi usaha kuliner yang ditekuninya baru sekitar 5 bulan, mulai buka usahanya Bulan Maret 2010 kemarin. Walaupun belum genap 6 bulan, pelanggannya sudah cukup banyak, dari sekitaran Tangerang sampai Jakarta.
Berdirinya usaha kuliner tersebut bermula dari keprihatinan Bu Yoen dengan kuliner sekarang yang sudah melekat dengan zat-zat makanan berbahaya yang dapat merusak kesehatan, dan mengisi waktu luang sehari-hari Bu Yoen. Bu Yoen pun terus memutar pikirannya, akhirnya tercetuslah ide kuliner unik yang tetap disukai banyak kalangan yang sesuai dengan selera lidah orang Indonesia.
Bakso uleg dan menu lain yang disajikan warung bakso Bu Yoen dibuat asli dari tangan kreatif Bu Yoen tanpa adanya campuran zat-zat berbahaya. Tanpa bahan pengawet, sambal dari cabe yang diuleg langsung, tanpa vetsin/MSG, dan disajikan tanpa saos. Itulah cara sehat yang diterapkan Ibu yang putra-putrinya sudah beranjak dewasa semua.
Bakso uleg yang saya pesan pun tiba, sajiannya pun agak sedikit berbeda dari bakso-bakso yang lain. Bakso dicampur tahu dan ketupat diberi bumbu-bumbu alami tanpa saos, bisa juga dicampurkan merica, kecap manis dan asin. Bu Yoen tidak menyediakan cuka bagi Anda yang suka makan bakso dengan rasa yang asam-asam tapi jangan kecewa dulu, Bu Yoen menyediakan alternatif pengganti cuka yang lebih sehat, air yang dicampur asam hitam bisa juga dikombinasikan. Anda yang menyukai bakso dengan rasa yang asam-asam pasti gak akan kecewa.
Bu Yoen sedang melayani pembeli.
Secara tak langsung, bersantap kuliner di tempat ini, Anda telah menerapkan pola hidup sehat ala Bu Yoen.
Anda penasaran, langsung saja berkunjung dan nikmati sehatnya sajian kuliner Bakso Uleg khas Bu Yoen. (Cahyana Putra)
Read more
Festival Cisadane 2010
June 14, 2010
Festival Cisadane 2010
Tangerang sebagai kota industri memiliki festival tahunan yang sudah dikenal luas, yaitu Festival Cisadane. Pertama kali festival ini digelar pada tahun 1993 dan sampai sekarang selalu diadakan di pinggiran Sungai Cisadane, tepatnya Jalan Benteng Jaya.
Festival Cisadane biasanya digelar bersamaan dengan perayaan Peh Cun. Perayaan Peh Cun atau hari raya Twan Yang (Duan Wu) dirayakan pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Tionghoa sebagai ucapan syukur.
Tahun 2010 ini, Festival Cisadane kembali digelar yaitu pada tanggal 16-22 Juni 2010 mendatang. Bagi masyarakat Tangerang yang ingin berpartisipasi mengikuti festival tahun ini, berikut adalah persyaratan yang ditetapkan oleh panitia Festival Cisadane 2010.
- Festival Baca Cerpen
- Festival Baca Puisi
- Festival Menulis Cerita Rakyat
- Festival Kreasi Anak
- Festival Menyanyi Keroncong
Sekilas Sejarah Perayaan Peh Cun
Duan Wu Jie atau yang dikenal dengan sebutan Festival Peh Cun di kalangan Tionghoa Indonesia adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah Tiongkok. Peh Cun adalah dialek Hokkian buat Pa Chuan (mandarin) yang artinya mendayung perahu, walaupun perlombaan perahu naga di kalangan Tionghoa Indonesia telah tidak umum saat ini, namun istilah Peh Cun tetap digunakan untuk menyebut festival ini.
Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2300 tahun dimulai dari masa Dinasti Zhou. Perayaan festival ini yang biasa kita ketahui adalah makan Bak Cang (Rou Zong = Mandarin) dan perlombaan perahu naga (Hua Long Zhou = Mandarin). Karena dirayakan secara luas di seluruh Tiongkok, maka dalam bentuk kegiatan dalam perayaannya juga berbeda di satu daerah dengan daerah lainnya. Namun persamaannya masih lebih besar daripada perbedaannya dalam perayaan tersebut.
Asal Usul
Dari catatan sejarah dan cerita turun temurun dalam masyarakat Tiongkok, asal usul festival ini dapat dirangkum menjadi 3 kisah :
Peringatan atas Qu Yuan
Qu Yuan (339 SM~277 SM) adalah seorang menteri Raja Huai dari Negara Chu di masa Negara Berperang (Zhan Guo Shi Dai, 475 SM~221 SM). Ia adalah seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya. Ia banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi untuk memerangi negara Qin. Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada pengusirannya dari ibukota negara Chu. Ia yang sedih karena kecemasannya akan masa depan negara Chu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Yu Luo. Ini tercatat dalam buku sejarah “Shi Ji” tulisan sejarahwan Sima Qian.
Lalu menurut legenda, ia melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari2 jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai Bak Cang sekarang. Para nelayan yang mencari2 jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya.
Peringatan atas Wu Zi-xu
Ini adalah versi lain yang juga populer di pesisir timur Tiongkok. Wu Zi-xu adalah orang negara Chu pada zaman Musim Semi dan Gugur (Chun Qiu Shi Dai, 770 SM~476 SM), namun karena keluarganya dibunuh oleh Raja Chu menyebabkan ia pergi membantu negara Wu menyerang negara Chu. Kerajaan Wu menang perang berkat jasanya. Sayangnya, setelah Raja Wu He Lu meninggal dan digantikan anaknya, anaknya tidaklah begitu menghormati Wu Zi-xu. Wu Zi-xu yang menasehatkan raja baru untuk menyerang negara Yue tidak digubris dan malah ia difitnah oleh menteri negara Wu yang bersekongkol dengan negara Yue mengharuskan ia dihukum mati. Setelah meninggal, jenazahnya kemudian dibuang oleh menteri ke dalam sungai. Sehingga, orang2 kemudian merayakan hari raya Duan Wu untuk memperingatinya.
Bermula dari perayaan suku kuno Yue di Tiongkok Selatan
Perayaan sejenis Duan Wu ini juga telah dirayakan oleh suku Yue di selatan Tiongkok pada zaman Dinasti Qin dan Han. Perayaan yang mereka lakukan adalah satu bentuk peringatan dan penghormatan kepada nenek moyang mereka. Kemudian setelah terasimilasi secara budaya dengan suku Han yang mayoritas, perayaan ini kemudian berubah dan berkembang menjadi perayaan Duan Wu yang sekarang kita kenal.
Kegiatan dan Tradisi
- Lomba Perahu Naga : Tradisi perlombaan perahu naga ini telah ada sejak zaman Negara Berperang (475 SM~221 SM). Perlombaan ini masih ada sampai sekarang dan diselenggarakan setiap tahunnya baik di Mainland (Hunan), HK, Taiwan maupun di AS. Bahkan ada perlombaan berskala internasional yang dihadiri oleh peserta2 dari luar negeri yang kebanyakan berasal dari Eropa ataupun Amerika Utara. Perahu naga ini biasanya didayung secara beregu sesuai panjang perahu tersebut.
- Makan Bak Cang (Rou Zong = mandarin) : Tradisi makan bak cang secara resmi dijadikan sebagai salah satu kegiatan dalam festival Duan Wu sejak Dinasti Jin. Sebelumnya, walaupun bak cang telah populer di Tiongkok, namun belum menjadi makanan simbolik festival ini. Bentuk bak cang sebenarnya juga bermacam2 dan yang kita lihat sekarang hanya salah satu dari banyak bentuk dan jenis bak cang tadi. Di Taiwan, di zaman Dinasti Ming akhir, bentuk bak cang yang dibawa oleh pendatang dari Fu Jian adalah bentuk bak cang yang bulat gepeng, agak lain dengan bentuk prisma segitiga yang kita lihat sekarang. Isi bak cang juga bermacam2 dan bukan hanya daging, ada yang isinya sayur2an. Ada pula yang dibuat kecil2 namun tanpa isi untuk kemudian dimakan bersama serikaya (penulis : dulu saya suka makan yang ini karena manisnya serikaya, apalagi buatan ibu sendiri).
- Menggantungkan Rumput Ai dan Chang Pu : Duan Wu yang jatuh pada musim panas biasanya dianggap sebagai bulan-bulan yang banyak penyakitnya, sehingga rumah2 biasanya melakukan bersih2, lalu menggantungkan rumput Ai (penulis : saya kurang tahu bahasa Indonesia-nya) dan Chang Pu di depan rumah untuk mengusir dan mencegah datangnya penyakit. Jadi, festival ini juga erat kaitannya dengan tradisi menjaga kesehatan di dalam masyarakat Tionghoa.
- Wu Shi Shui (Air tengah hari) : Tradisi ini cuma ada di kalangan masyarakat yang berasal dari Fujian (Hokkian, Hokchiu, Hakka), Guangdong (Teochiu, Kengchiu, Hakka) dan Taiwan adalah mengambil dan menyimpan air pada tengah hari festival Duan Wu ini, dipercaya dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bila dengan mandi ataupun diminum setelah dimasak. (penulis : dulu sering dibawa orang tua bermain dan mandi ke sungai di luar kota pada tengah hari festival Duan Wu).
Untuk Perayaan Peh Cun tahun 2010, akan ada pemecahan rekor MURI ( Museum Rekor Indonesia) makan bacang terbanyak dan mendirikan telor terbanyak.
Sumber dari sini, sini dan sini.
Jajan Kebab Yuk
June 2, 2010
Pernah dengan Kebab atau justru pernah makan Kebab? Kalau saya sih relatif sering. Ternyata kalau iseng – iseng menjelajahi perut dari mbah gugel. Kebab itu artinya berbagai hidangan daging panggang/bakar yang ditusuk memakai tusukan atau tusukan besi. Dari definisi itu, kebab itu sebenarnya ya dagingnya itu yang proses pengolahannya dibakar atau dipanggang dengan memakai tusukan atau tusukan besi.
Tapi yang sering dilihat kebab ya seperti yang sekarang ini, mirip dengan burger, tapi dengan cara dan jenis yang agak beda, tapi ya tetap saja jadi makanan cepat saji yang cukup populer di Indonesia. Saya sendiri belum pernah merasakan kebab yang asli rasanya bagaimana, karena kebab yang disinikan sudah di buat dalam versi rasa lidah orang – orang Indonesia.
Kalau di Tangerang, saya suka makan kebab di dua tempat dan dua – duanya terletak di Jl, Raden Saleh Raya Kota Tangerang. Yang satu letaknya di Alfa Midi dekat kantor kelurahan Karang Tengah dan yang satu lagi persis di depan RS Bhakti Asih. Saya nggak akan sebut merknya karena takut dikira promo. Tapi sungguh lezat dan bikin ketagihan. Sementara kalau di kota Tangerang Selatan, sampai saat ini saya cuma nemu di dekat shelterbus Trans BSD, dia dekat dengan RS Bunda Delima.
Ketiga Kebab yang saya sebutkan itu punya cita rasa yang berbeda – beda dan cara pengolahan yang beda pula tapi yang jelas ketiganya yummy dan pasti meleleh di lidah. Soal harga, bervariasi dari yang paling murah Rp. 6000 hingga Rp. 11.000
Nah tunggu apa lagi?
Foto diambil dari sini
Kopdar KBBC Bulan Juli : Hangat Roti Pinggir Kali
July 4, 2009
Setelah bulan Juni KBBC tidak mengadakan kopdar rutin bulanan karena kesibukan dari masing-masing anggotanya, bulan Juli ini KBBC kembali mengadakan kopdar. Kopdar kali ini berbeda dengan kopdar-kopdar sebelumnya. Selain karena lokasinya yang bertempat di pusat kuliner Tangerang, tepatnya di Roti Bakar 88 Kisamaun juga karena waktunya yang malam hari. Lebih lengkapnya sbb:

Tanggal/Hari : Jumat, 10 Juli 2009
Waktu : 19:00 – selesai
Tempat : Roti Bakar 88
Jl. Kisamaun No. 118 Tangerang
Seperti biasa, ada obrolan hangat dan roti bakar nan sedap tentunya. Undangan kopdar ini berlaku untuk semuanya, bloger anggota KBBC maupun non-anggota. Peta lokasi bisa dilihat disini.
CP: 1. Payjo 08999102766
2. Eddy 0818987339
Ada Rujak Cingur di Citra Raya Tangerang
May 20, 2009
Rujak cingur merupakan makanan Jawa Timuran yang sangat terkenal. Bukan saja karena rasanya yang lezat melainkan juga karena pernah diangkat menjadi judul lagu Koes Ploes. Lagu yang juga pernah dinyanyikan oleh Joshua. Kang Kombor pun sering mendengar tembang rujak cingur setiap kali Kang Kombor nonton pentas jathilan (kuda lumping) di Sleman. Namun, lirik tembang rujak cingur yang ditembangkan oleh sindhen jathilan itu berbeda dengan tembang rujak cingur yang dinyanyikan oleh Joshua. Tembang rujak cingur di pentas jathilan yang selalu Kang Kombor dengar penggalannya seperti di bawah:
Rujak cingur rujake wong lagi nganggur
…
Rujak ulek rujake wong lagi mumet
…
Hanya dua baris itu saja yang Kang Kombor ingat. Yang lainnya hanya teringat lamat-lamat. Beda dengan tembang Prahu Layar yang Kang Kombor ingat secara komplit.
Baca selengkapnya >>>>>>>
Jagung Bakar
May 12, 2009
Suka makan Jagung Bakar? Kalau saya sih rada suka, enggak terlampau maniak sih, tapi lumayanlah sebagai bahan pengganjal perut nan ringan. Nah, dari sekian banyak tempat Jagung Bakar di seputaran Tangerang yang pernah saya datangi dan jajal, saya senang dengan yang Jagung Bakar yang terletak di Perumahan Metro Permata I.
Perumahan ini terletak di Jl. Raden Saleh Raya, kalau dari perempatan Ciledug ambil ke arah Meruya, dan perumahannya terletak setelah Komp Dept Keuangan. Masuk saja ke perumahan itu, dia terletak sebelah kiri jalan koq. Cuma ada satu disana, jadi enggak akan nyasar
Bakso Sesepan
May 23, 2008
Ada bakso enak di BSD, kalau masuk dari arah terminal Trans BSD, lurus aja ke arah tol BSD – Bintaro. Nanti ketemu perempatan pertama belok kiri, lalu lurus aja, letaknya di sebelah kanan. Terletak satu lokasi sama Apotik “maaf lupa namanya” dan Martabak (yang ini juga lupa). Kalau rekan sudah melewati jembatan rel kereta berarti anda kelewatan.
Ada bakso urat dan bakso biasa, saya sih lebih senang bakso biasa. Rasakan kelezatannya. Saya yakin rekan akan ketagihan seperti saya.
Pondok Kemangi
May 19, 2008
Saya menyukai rumah makan ini, selain makanannya yang enak dan renyah, harganyapun cukup masuk akal. Rumah makan ini terletak di Jalan Raya Serpong menuju BSD setelah Alam Sutera dan sebelum Rumah Makan Sarang Kepiting.
Coba deh makan disana, saya yakin anda pasti ketagihan seperti saya. Satu-satunya hal yang mengganggu adalah di Rumah Makan itu tidak ada Sertifikasi Halal dari MUI atau BPOM yang dapat terlihat oleh saya.




