<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KBBC (Komunitas Bloger Benteng Cisadane) &#187; Kuliner</title>
	<atom:link href="http://blogerbenteng.com/category/kuliner/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogerbenteng.com</link>
	<description>Tangerang Raya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 03:55:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hangat dan Nikmatnya Sego Kucing Gerbang Sevilla</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2011/10/05/hangat-dan-nikmatnya-sego-kucing-gerbang-sevilla/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2011/10/05/hangat-dan-nikmatnya-sego-kucing-gerbang-sevilla/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 17:06:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rosid On Street</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keliling Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=40206</guid>
		<description><![CDATA[Sebetulnya tidak ada nama khusus untuk Angkringan Nasi Kucing ini, tapi sudah menjadi populer disebut Sego Kucing Gerbang Sevilla (SKGS). Untuk yang belum tahu, nasi kucing bukan  berarti nasi buat kucing dimakan manusia. Nasi kucing disini adalah sebuah nasi bungkus yang dikemas tidak terlalu besar dan didalamnya ada sedikit lauk pauk kadang ikan teri, tempe, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/10/100_2979.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-40207" title="Sego Kucing Gerbang Sevilla" src="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/10/100_2979.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a>Sebetulnya tidak ada nama khusus untuk Angkringan Nasi Kucing ini, tapi sudah menjadi populer disebut Sego Kucing Gerbang Sevilla (SKGS).</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk yang belum tahu, nasi kucing bukan  berarti nasi buat kucing dimakan manusia. Nasi kucing disini adalah sebuah nasi bungkus yang dikemas tidak terlalu besar dan didalamnya ada sedikit lauk pauk kadang ikan teri, tempe, cuilan ikan, atau juga abon. Bentuk pengemasannya yang kecil dan ditambahkan sedikit lauk pauk inilah yang  membuatnya dikenal  dengan sebutan Nasi Kucing atau Sego Kucing. Kadang, sering ada yang bilang makan 1 kurang, makan 2 kekenyangan.Buat sobat-sobat yang sering mencari tongkrongan lengkap dengan jajanan yang cocok di suana malam, mungkin SKGS bisa jadi alternatif lain.</p>
<p style="text-align: justify;">SKGS terletak persis di depan gerbang komplek Graha Sevilla – Citra Raya, Kec. Panongan. Buka mulai dari jam 6 sore sampai jam 12 malam.Kalau malam minggu siap-siap saja kadang kita harus berebut tempat duduk, meskipun duduk di tikar lesehan sederhana tidak mengurangi cita rasa hangat dan nikmat jajanan di SKGS, apalagi kalau jajannya rame-rame dengan teman-teman. Lokasinya yang berada di jalur perlintasan antara Citra Raya – Panongan sering menjadi lokasi alternatif bagi yang melintasnya, baik yang untuk menyantap nasi maupun segelas wedang jahe hangat.Sederhana, tapi asik (dipotret dari lesehan)</p>
<div id="attachment_40208" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/10/100_2977.jpg"><img class="size-full wp-image-40208" title="Sederhana, tapi asik (dipotret dari lesehan)" src="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/10/100_2977.jpg" alt="Sederhana, tapi asik (dipotret dari lesehan)" width="448" height="336" /></a><p class="wp-caption-text">Sederhana, tapi asik (dipotret dari lesehan)</p></div>
<p style="text-align: justify;">Selain nasi kucing, yang populer di SKGS adalah <em>wedang jahe cah solo-</em>nya yang dikenal hangat dan nikmat. Cara penngolahnnyapun memang cukup menarik, mula-mula jahe yang berkualitas tinggi dibersihkan kemudian dipanggang. Setelah wanginya keluar, jahe-jahe tersebut kemudian dipipihkan dan selanjutnya direbus. Cara perebusannya juga cukup menarik, tidak menggunakan kompor ataupun bara kayu utuh, melainkan menggunakan arang. Wedang tersebut terus dipanaskan diatas tungku arang secara simultan sampai habis terjual. Dan yang paling favorit adalah dicampur dengan susu, bisa disajikan dalam kondisi panas, hangat, maupun dingin.</p>
<p style="text-align: justify;">Soal harga, tidak perlu khawatir, sangat merkayat. Untuk yang mau sambil onlinepun suasananya cukup nyaman, asik laaaaah&#8230; kalau buat nongkrong-nongkrongmah, tapi jangan disamakan dengan nongkrong di mall ataupun kafe, karena disini situasinya jauh lebih alami dan memasyarakat. Disini juga biasanya tersedia WIFI, meskipun memang WIFI punya “tetangga” yaitu sebuah toko minimarket (persis di depan SKGS) yang WIFI-nya tidak diproteksi ataupun dimatikan saat tokonya tutup. Lumayan kan ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2011/10/05/hangat-dan-nikmatnya-sego-kucing-gerbang-sevilla/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasi Uduk, menu sarapan di Tangerang</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2011/06/21/nasi-uduk-menu-sarapan-di-tangerang/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2011/06/21/nasi-uduk-menu-sarapan-di-tangerang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 14:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agusprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=39817</guid>
		<description><![CDATA[Lain ladang lain belalang. Lain kota lain pula menu sarapannya . Menu sarapan yang saya maksud adalah menu sarapan yang banyak dijual di pagi hari. Menu sarapan untuk orang yang belum sempat memasak, atau anak kost seperti saya. Kalau di kota kelahiran saya, Magelang, di pagi hari kita mudah untuk mencari sarapan nasi gudeg. Sedangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lain ladang lain belalang.<br />
Lain kota lain pula menu sarapannya <img src='http://blogerbenteng.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Menu sarapan yang saya maksud adalah menu sarapan yang banyak dijual di pagi hari.<br />
Menu sarapan untuk orang yang belum sempat memasak, atau anak kost seperti saya.</p>
<p>Kalau di kota kelahiran saya, Magelang, di pagi hari kita mudah untuk mencari sarapan nasi gudeg.<br />
Sedangkan di Surabaya, nasi pecel adalah menu pilihan untuk sarapan.</p>
<p>Maka di Kota Tangerang, saya menobatkan nasi uduk sebagai menu sarapan.</p>
<p><span id="more-39817"></span>Nasi uduk adalah nasi yang dimasak dengan santan sehingga mempunyai rasa gurih.<br />
Nasi uduk adalah kuliner khas Indonesia, khususnya Betawi.<br />
Karena rasanya yang enak itulah, maka banyak orang yang menyukainya.</p>
<p>Di Tangerang nasi uduk juga mudah didapatkan untuk sarapan pagi.<br />
Dari kost saya sampai ke tempat kerja yang berjarak 7 kilo, saya bisa menemukan 5 penjual nasi uduk.<br />
Tempat berjualan sederhana, hanya sebuah meja yang terletak di pinggir jalan.<br />
Siap melayani para pekerja yang sedang berangkat kerja</p>
<p>Soal harga juga tidak mahal.<br />
Dengan harga sekitar 7 ribu rupiah, kita sudah mendapatkan nasi uduk, plus telur, bihun dan kerupuk.</p>
<p>Cukup sebagai pengganjal perut di pagi hari.<br />
Sebagai sumber tenaga untuk menjalani aktivitas pagi.</p>
<p>Selamat makan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2011/06/21/nasi-uduk-menu-sarapan-di-tangerang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>‘Selamat datang, MariSini’</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2011/06/12/%e2%80%98selamat-datang-marisini%e2%80%99/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2011/06/12/%e2%80%98selamat-datang-marisini%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 05:25:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beatlesmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=39607</guid>
		<description><![CDATA[Mariii, kembali ke akhir pekan… Ini semakin membuat saya bersemangat, menyisihkan waktu untuk diri saya dan orang-orang terdekat. Tak terkecuali kekasih tercinta saya, Sandika. Jumat (3/6/2011), Sibiru rasanya fit sekali, hari itu liputan agak sepi merona. KPK rupanya tidak ada pimpinan, mereka ikut cuti bersama. Alhasil saya ditarik ke Redaksi Utan Kayu KBR68H lebih cepat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/06/IMG01099-20110603-2012.jpg"><img class="size-medium wp-image-39610 alignleft" title="IMG01099-20110603-2012" src="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/06/IMG01099-20110603-2012-300x225.jpg" alt="" width="401" height="301" /></a>Mariii, kembali ke akhir pekan… Ini semakin membuat saya bersemangat, menyisihkan waktu untuk diri saya dan orang-orang terdekat. Tak terkecuali kekasih tercinta saya, Sandika.</p>
<p style="text-align: justify;">Jumat (3/6/2011), Sibiru rasanya fit sekali, hari itu liputan agak sepi merona. KPK rupanya tidak ada pimpinan, mereka ikut cuti bersama. Alhasil saya ditarik ke Redaksi Utan Kayu KBR68H lebih cepat. Pukul 14.00 WIB saya kembali dengan <em>colorbar</em> (istilah kaset rekaman tak ada suara). Tapi tentunya itu hal biasa di dunia jurnalisme radio yang memerlukan suara dalam sumber pemberitaan. Sesampainya di meja redaksi, saya inisiatif hubungi narasumber untuk beberapa berita, masih soal Nunun dan Udin Demokrat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 17.00 WIB, seharusnya saya sudah beranjak pergi karena jam shift sudah habis. Sandika meminta tolong untuk mengantarkan mengambil anak-anak (dua kucing saya, Cisa dan Chiko) di Pets Shop. Mereka sedang ditreatment atau dibersihkan seluruh tubuhnya. Okay, saya meng-iya-kan. Wuuusshhh….</p>
<p>Sesampainya di Tangerang dari Utan Kayu Jakarta Timur, kami berencana untuk ke Lippo Mall Karawaci untuk makan malam. Saat itu Lippo lumayan ramai, ditandai dengan kondisi <em>foodcourt</em>-nya yang penuh sesak. Mutar-mutar kami mencari makan, eeeiitttsss tunggu sebentar…</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan kami tertuju kepada satu sudut<em> counter</em> makanan di sebelah McDonald Foodcourt Lippo. Unik sekali, sebuah <em>counter food</em> yang menyajikan suasana warung kelontong tempo dulu. Warung kelontong itu bernuansa biru dengan desain serba tempo dulu. Kami pun memutuskan untuk makan di warung tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada tamu…!!!” Seru seorang pelayan warung itu. “Mari sini…” Sahut pelayan lain. Begitu kami disambut dua pelayan kompak mengenakan pakaian motif bunga-bunga berwarna pink ala tukang jamu. Nama warung kelontong itu ‘Warung Makan MariSini’.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami duduk, kepala ini tidak berhenti menengok kanan kiri, mengamati apa saja yang dijual, serta menyimak ornamen-ornamen MariSini. Begitu unik, MariSini sangat mengingatkan saya dan Sandika di masa kecil. Bagaimana tidak makanan camilan dan mainan anak-anak semasa kami belia di jual. Misal saja biskuit bunga, cokelat ayam jago, dan macam-macam permen serta biskuit. Semua tersimpan rapi dalam toples. Ada juga mainan-mainan anak-anak yang tergantung dalam plastik-plastik. Misal saja pedang-pedangan plastik, mainan masak-masakan, ada juga balon-balon. Wah… Semua yang ada di situ benar-benar warung jaman dulu. Belum lagi kursinya terbuat dari kayu seperti semasa saya TK. Taplaknya pun bermotif bunga khas warung makan jaman dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya teringat semasa kuliah suka ngopi-ngopi di Tugu Proklamasi atau di warung makan di kawasan Salemba bersama teman-teman pergerakan Mahasiswa. Yah, seperti itulah, sangat rasa pinggir jalan kebetulan saya penikmat suasana pinggir jalan yang tidak pernah berbohong.</p>
<p style="text-align: justify;">MariSini yang dibuka sejak awas 2011 itu menyajikan makanan-makanan pinggir jalan. Sebut saja nasi goreng, nasi bakar, mie lontong, gado-gado, tahu goreng, tahi kopyok, mie tek-tek dan lain-lain. Minumannya pun beragam, yah sebut saja khas minuman pinggir jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari segi harga, ehm… Saya menilai relatif murah. Sekelas mie goreng atau nasi bakar saja Rp 15 ribu dengan porsi yang lumayan banyak dan mengenyangkan. Minumannya mulai dari sekitar Rp 6 ribuan, mulai dari kopi tubruk, teh manis, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena perut sudah terisi penuh, hanya Sandika saja yang memesan makanan. Nasi bakar dipilihnya, dan kami cukup terkejut. Rasanya enak sekali, terlebih citarasa pinggir jalan yang gurih dan agak sedikit gosong terasa di mulut. Selain itu porsinya juga cukup pas di perut. Di sajikan dalam mangkok dan piring motif bunga-bunga. Saya lupa namanya jenis piring apa itu. Yang pasti piring dan mangkok itu biasa digunakan di era tahun 60-an oleh masyarakat ‘pinggir jalan’. Wah, kamin kental saja suasananya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bertanya ke Sandika soal suasana warung itu. Sepertinya ada yang kurang, ehm… Yah lagu tempo dulu. Kami sepakat jika Warung MariSini menyediakan backsound lagu-lagu melayu jaman dulu, seperti lagu penyanyi Malaysia Saloma, Bing Slamet, dan sebagainya. Tepatnya musik tahun 50-60an. Itu saya rasa lebih enak.</p>
<p><a href="http://celoteh-eby.blogdetik.com/">“Trimakasih sudah mampir, MariSana…..”</a></p>
<p>Telah diposting pada blog pribadi di sini : <a href="http://celoteh-eby.blogdetik.com/2011/06/08/selamat-datang-marisini/">http://celoteh-eby.blogdetik.com/2011/06/08/selamat-datang-marisini/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2011/06/12/%e2%80%98selamat-datang-marisini%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soerabi, Seandainya Terdengar Gambang Kromong atau Keroncong</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2011/05/30/soerabi-seandainya-terdengar-gambang-kromong-atau-keroncong/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2011/05/30/soerabi-seandainya-terdengar-gambang-kromong-atau-keroncong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 15:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beatlesmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=39517</guid>
		<description><![CDATA[Ahhhh&#8230; Sabtu lagi, hari yang begitu saya nanti di setiap pekan. Apalagi saya baru saja memulai kesibukan baru sebagai wartawan radio di Kantor Berita Radio 68h. Radio yang sangat besar dengan jaringan 800 radio lebih di Indonesia, Asia dan Australia. Kesibukan saya sebagai wartawan radio pun semakin bertambah, tantangannya banyak prosedur dan alat yang harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ahhhh&#8230; Sabtu lagi, hari yang begitu saya nanti di setiap pekan. Apalagi saya baru saja memulai kesibukan baru sebagai wartawan radio di Kantor Berita Radio 68h. Radio yang sangat besar dengan jaringan 800 radio lebih di Indonesia, Asia dan Australia. Kesibukan saya sebagai wartawan radio pun semakin bertambah, tantangannya banyak prosedur dan alat yang harus di kuasai. Tentunya berkejaran dengan dateline yang lumayan ketat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/05/Sorabi.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-39526" title="Sorabi" src="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/05/Sorabi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Tapi bukan itu yang akan saya ceritakan di Sabtu (28/5/2011) ini. Tapi tentang romantisme makan surabi di Kedai Soerabi Kita, Jalan Kisamaun, Tangerang.</p>
<p>Saya sempat berdiskusi kecil dengan kekasih saya, Sandika. Mengapa surabi? Mengapa bukan serabi? Ehm&#8230; Usut punya usut ternyata surabi itu masih satu &#8216;marga&#8217; dengan serabi. Selain beda asal, tekstur surabi lebih halus dan &#8216;elit&#8217; dibanding serabi yang &#8216;merakyat&#8217;. Saya suka menyebut serabi sebagai kaum terpinggirkan, semakin gosong dan penyanyiannya sederhana, serabi itu semakin berkelas. Kalau surabi, tekstur halusnya membuat kue yang satu ini mudah naik pangkat.</p>
<p>Misal saja, surabi di Soerabi Kita ini. Banyak sekali perubahan dari surabi yang penyanyian dasarnya kue surabi plus saus gula merah kental. Nah di Soerabi Kita ini menyanjikan 60 lebih cara penyajian, namun bahan dasarnya kue surabi.</p>
<p>Begitu datang di kedainya, saya sudah dijejali menu yang membingungkan. Belum lagi poster yang terpajang dengan bergambarkan penyanyian surabi mulai yang kategori manis dan asin.</p>
<p>Apa saja yang bisa dipilih? Okay, saat datang dari ke-60 surabi saya pertama pilih surabi oncom sosis spesial. Surabi ini unik, oncom kering (sedikit basah karena pengaruh panas) dan sosis potong ditabur di atas adonan surabi. Tapi anehnya rasanya maknyus pemirsa, semua satu di mulut. Kali ini saya cicip surabi itu denga saus sambal. Ehm&#8230; Modern dan Indonesia klasih menyatu di lidah.</p>
<p>Ada lagi surabi cokelat keju spesial yang dipesan Sandika. Agak mewah surabi yang satu ini, bisa dilihat di sajiannya. Surabi bertabur butiran cokelat saat dipanggang. Setelah itu ditaburi parutan keju craff. Belum cukup, ada saus kental berwarna kehijau-hijauan mengkilap menyelimuti surabi. Sampai sekarang saya memutuskan tidak ingin tahu saus apa itu, saya hanya ingin tahu rasanya yang begitu nikmat. Menyatu dengan rasa kelapa surabi. Rasanya manis dan saya nilai abstrak, antara rasa orange dan srikaya. Tapi saya rasa bukan&#8230; Kental saus itu membuat awet di lidah. Terlebih taburan dan butiran cokelat yang meleleh saat dikunyah.</p>
<p>Seret? Ehm tidak mungkin terjadi. Tekstur dan rasa surabi yang satu ini tidak kering seperti serabi yang berbahan dasar kelapa parut. Surabi ini seperti pan cake, namun lebih terasa aroma santan kelapa. Tapi tidak lucu kalau tak pesan minum di kedai ini. Karena banyak beragam jenis minuman, memang sejujurnya standar. Seperti minuman bersoda, teh botol, jus jeruk dan sebagainya. Namun ada satu yang Sandika pilih, yaitu teh tarik. Teh ini menjadi favorit saya yang suka sekali dengan cita rasa timur tengah. Paduan teh dan susu kental ini pas &#8216;melawan&#8217; surabi manis maupun asin. Apalagi disajikan hangat&#8230;</p>
<p>Satu menu lagi yang begitu menggoda saya dan Sandika, surabi duren. Ehm&#8230; Sayangnya saat itu durennya belum ada. Namu setelah ditunggu, akhirnya tersedia. Menurut pelayannya, surabi saus duren sering ada di sore hari. Mengapa? Memang keberadaan surabi ini mengikuti laju pertumbuhan duren di pasaran. Jika ada duren, yah ada juga surabi duren.</p>
<p>Karena perut Sandika sudah penuh dengan surabi, maka saya saja yang memesan. Kali ini saya ingin mencoba kinca duren polos. Kinca ini nama saus yang berbahan dasar duren. Namun kinca ini dimasak terlebih dahulu, pengolahannya sama halnya seperti membuat fla puding. Disajikan hangat. Beruntung saya pemesan pertama surabi kinca duren, jadi kinca hangat beraroma tajam duren menusuk hidung.</p>
<p>Penantian 15 menit sajian surabi duren tak sia-sia, surabi kinca duren begitu lezat. Agak sulit menggambarkannya, rasa kinca duren begitu menyatu dengan rasa surabi yang berbahan dasar kelapa santan. Begitu di lidah, rasa hangat kinca tak begitu saja luluh di lidah. 3 suap, aroma duren begitu apik menjilat-jilat dinding mulut saya. Ehhmm&#8230; Habislah surabi itu dalam 5 suapan saja&#8230;</p>
<p>Saya ingin memesan lagi, tapi ternyata kenyang sekali memakan 2 surabi berbeda jenis rasa.</p>
<p>Rata-rata harga surabi paling murah Rp 4 ribuan, yang paling mahal Rp 10 ribuan. Tentu itu tidak mahal untuk pengalaman menarik menikmati surabi dari sudut berbeda dan langsung disajikan hangat tanpa bahan pewarna dan pengawet.</p>
<p>Suasana klasik Soerabi Kita</p>
<p>Ada hal lain yang menggoda mata, telinga, bahkan batin saya saat menginjakkan kaki di Soerabi Kita. Citra rasa klasik tempo dulu, itu yang saya cari saat menikmati surabi maupun serabi. Soerabi Kita tidak menyajikan suasana modern, semisal berjualan di ruko atau di ruang AC. Justru suasana panas tungku dan arsitektur warung khas &#8216;kampung&#8217; menyatu dengan rasa surabi.</p>
<p>Apalagi kebetulan backsound lagu-lagi Iwan Fals menjauhkan kesan dan rasa borjuis. Saya tidak menemukan sosok borjuis, rata-rata pembeli datang dari kalangan bawah. Mungkin itu hanya perasaan saya saja, namun cara berpakaian mereka begitu sederhana dengan memakai kaus dan celana pendek. Sama seperti saja, meski saya tahu mereka datang menggunakan Mercy. Itu tak masalah, yang penting sore itu begitu saya nikmati.</p>
<p>Sebenarnya saya berharap lagu yang menjadi backsound adalah keroncong atau gambang kromong. Lagu yang saya gemari hingga saat ini. Suasana klasik pasti makin kental, ditambah begitu banyak rumah tua kaum China Benteng bermukim di kawasan Jalan Kisamaun Tangerang.</p>
<p>Tidak terasa sore menjelang, matahari sudah mulai turun dari tugasnya menerangi siang. &#8216;Cita rasa&#8217; Tangerang saya teruskan dengan menyisiri bantaran Kali Cisadane, tempat favorit saya di hari libur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2011/05/30/soerabi-seandainya-terdengar-gambang-kromong-atau-keroncong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Soto Mie Bang Mamat Tangerang</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2011/03/13/nikmatnya-soto-mie-bang-mamat-tangerang/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2011/03/13/nikmatnya-soto-mie-bang-mamat-tangerang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Mar 2011 07:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hermawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[soto mie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=39107</guid>
		<description><![CDATA[Setelah pulang bertugas dari Medan, Sumatera Utara, saya langsung kepengen makan Soto Mie Bogor Bang Mamat di Tangerang Kota. Soto Mie Bogor buatan Bang Mamat ini tergolong makanan favorit saya di Tangerang, rasanya pas banget buat lidah saya. Bagi saya Soto Mie Bang Mamat belum ada yang nyaingi rasanya untuk wilayah sekitar Tangerang. Pagi jam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah pulang bertugas dari Medan, Sumatera Utara, saya langsung kepengen makan Soto Mie Bogor Bang Mamat di Tangerang Kota. Soto Mie Bogor buatan Bang Mamat ini tergolong makanan favorit saya di Tangerang, rasanya pas banget buat lidah saya. Bagi saya Soto Mie Bang Mamat belum ada yang nyaingi rasanya untuk wilayah sekitar Tangerang.</p>
<p><img class="aligncenter" src="https://lh6.googleusercontent.com/_eEvRmJKFFAA/TXvo1mtcvwI/AAAAAAAAACk/ehJ-4tp2Aag/s512/Foto0010.jpg" alt="" width="384" height="512" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi jam tujuh (7) pagi saya sudah bergegas berangkat dari Legok kearah Tangerang Kota, dan sengaja gak makan apa-apa dari rumah supaya perut bisa menampung nikmatnya Soto Mie Bogor Bang Mamat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kilas balik aja, awalnya tahu informasi Soto Mie Bogor Bang Mamat yaitu dari seorang penjual Soto Mie Bogor juga yang mangkal di daerah Tanah Tinggi Tangerang. Dia bercerita awal kariernya berdagang Soto Mie bermula terinspirasi dari Soto Mie Bang Mamat. Dia adalah salah satu penggemar Soto Mie Bang Mamat, yang akhirnya sekarang jualan soto mie bogor juga mengikuti jejak Bang Mamat.</p>
<p><img class="aligncenter" src="https://lh4.googleusercontent.com/_eEvRmJKFFAA/TXvo4CeArbI/AAAAAAAAACo/ckUWnWYZWWo/s512/Foto0011.jpg" alt="" width="384" height="512" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di tempatnya Soto Mie Bogor Bang Mamat, saya langsung pesan soto mienya ama nasi dipisah. Akhirnya kesampaian juga makan lagi disini, setelah melanglang buana di Sumatera Utara  dan sempat mencicipi juga soto  khas Medan yaitu Soto Medan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sempat tanya-tanya ama Bang Mamat juga, dia berjualan Soto Mie Bogor di tempat itu sudah sepuluh tahun lebih. Kalau hari Libur (Sabtu dan Minggu) dagangannya lebih cepat habis, rame yang beli, paling jam 1 siang udah habis. Tapi kalau hari kerja atau hari biasa, dagangannya habis sampe sore hari.</p>
<p><img class="aligncenter" src="https://lh6.googleusercontent.com/_eEvRmJKFFAA/TXvo5mdcmpI/AAAAAAAAACs/Ieom6LRtl8A/s512/Foto0009.jpg" alt="" width="384" height="512" /></p>
<p style="text-align: justify;">Nah Soto Mie Bogor Bang Mamat terletak di pusat Kota Tangerang yaitu di Jalan MT. Haryono, Jl. Sukarasa, deket atau seberang dari Gedung Pertemuan Happy. Kalau mau kesitu bisa melalui Jalan Dimyati atau Jl. Kisamaun Tangerang Kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kenyang melahap habis Soto Mienya, langsung aja deh,, saya bayar dan pamit pulang ama Bang Mamat.</p>
<p style="text-align: justify;">Nantikan postingan saya berikutnya tentang kuliner Tangerang.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam Hangat dan Moga bermanfaat&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2011/03/13/nikmatnya-soto-mie-bang-mamat-tangerang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuliner Nasi Bakar</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2011/02/24/kuliner-nasi-bakar/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2011/02/24/kuliner-nasi-bakar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 07:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agush_ckp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=38932</guid>
		<description><![CDATA[Bagi teman-teman yang belum  mencoba nasi bakar di dekat taman palem krawaci.  rutenya dari lippo karaci menuju cimone ada prapatan lampu merah dekat dengan nasi bakar &#8230;..selain itu juga banyak temannya nasi seperti ayam goreng, ayam bakar , sate dan lain lain ..pokoke selamat mencoba dech ada juga tahu dan tempe dan kankung &#8230;. nikmat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/02/nasi-bakar.jpg"><img class="size-full wp-image-38933 aligncenter" src="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/02/nasi-bakar.jpg" alt="" width="230" height="197" /></a></p>
<p>Bagi teman-teman yang belum  mencoba nasi bakar di dekat taman palem krawaci.  rutenya dari lippo karaci menuju cimone ada prapatan lampu merah dekat dengan nasi bakar &#8230;..selain itu juga banyak temannya nasi seperti ayam goreng, ayam bakar , sate dan lain lain ..pokoke selamat mencoba dech ada juga tahu dan tempe dan kankung &#8230;. nikmat dech</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2011/02/24/kuliner-nasi-bakar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuliner Laksa Kota Tangerang</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2011/02/19/kuliner-laksa-kota-tangerang/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2011/02/19/kuliner-laksa-kota-tangerang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 05:43:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agush_ckp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=38843</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi kuliner laksa jl. Moh Yamin dekat tangerang City &#8230;.makan laksa 1 porsi di bang kumis cukup 8.000 pake telor bisa pake ayam dan pake lontong dan bakwan sesuai selera dech &#8230;.selamat mencoba bagi yang belum pernah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lokasi kuliner laksa jl. Moh Yamin dekat tangerang City &#8230;.makan laksa 1 porsi di bang kumis cukup 8.000 pake telor bisa pake ayam dan pake lontong dan bakwan sesuai selera dech &#8230;.selamat mencoba bagi yang belum pernah</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/02/Kuliner-Laksa-Kota-Tangerang.jpg"><img class="size-full wp-image-38844 aligncenter" src="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/02/Kuliner-Laksa-Kota-Tangerang.jpg" alt="" width="230" height="197" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/02/Sepiring-Laksa-.jpg"><img class="size-full wp-image-38847 aligncenter" src="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/02/Sepiring-Laksa-.jpg" alt="" width="230" height="197" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/02/TK-Laksa-Mas-Kunis.jpg"><img class="size-full wp-image-38848 aligncenter" src="http://blogerbenteng.com/wp-content/uploads/2011/02/TK-Laksa-Mas-Kunis.jpg" alt="" width="230" height="197" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2011/02/19/kuliner-laksa-kota-tangerang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Mingguan Di Tangerang Sampai Pukul 23.00 WIB</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2011/01/24/malam-mingguan-di-tangerang-sampai-pukul-23-00-wib/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2011/01/24/malam-mingguan-di-tangerang-sampai-pukul-23-00-wib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 14:18:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beatlesmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kota Tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Rekreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=38761</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini saya bercerita soal perjalanan saya di Tangerang pada malam hari. Sabtu (22/1/20110) lalu, saya dan beberapa teman memutuskan untuk keluar malam. Selain ingin menyegarkan pikiran dan &#8216;membunuh&#8217; rutinitas kerja, kami juga ingin melupakan Jakarta untuk semalam. Kami pun memilih Tangerang sebagai sasaran utama penyegaran itu. Al hasil dari kawasan Karawaci saya start menuju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini saya bercerita soal perjalanan saya di Tangerang pada malam hari. Sabtu (22/1/20110) lalu, saya dan beberapa teman memutuskan untuk keluar malam. Selain ingin menyegarkan pikiran dan &#8216;membunuh&#8217; rutinitas kerja, kami juga ingin melupakan Jakarta untuk semalam.</p>
<p>Kami pun memilih Tangerang sebagai sasaran utama penyegaran itu. Al hasil dari kawasan Karawaci saya start menuju kota. Karena saya yang tahu tempat-tempat asik di Tangerang, maka kali ini saya jadi <em>leader</em> jelajah malam di Tangerang. Padahal, jujur saya belum pernah mutar-mutar Tangerang di malam hari, apalagi malam minggu. Saya lebih suka sore atau siang untuk menjelajahi Tangerang.</p>
<p>Tujuan pertama adalah kawasan Kisamaun, pukul menujukan pukul 22. 00 WIB, kami berangkat. Saya berpikir akan mekan sate atau nasi uduk di pinggir jalan Kisamaun, Pasar Lama. Begitu sampai di sana, ehm <em>tukang jajanan</em> sudah kosong. Jangankan saya, teman-teman saya lainnya pun garuk-garuk kepala karena merasa aneh, pukul 22.00 WIB <em>sudah hampir berakhir di Tangerang</em>.</p>
<p>Tapi masih ada beberapa tukang jualan yang berdagang, seperti jajanan nasi uduk dan sate. Tapi nasi uduk sudah habis, tersisa nasi putih dan lauk ayam. Begitu juga sate, tidak ada nasi, tinggal lontong. Sedangkan jajanan lain sudah gulung tikar.</p>
<p>Kawasan Kisamaun <em>drop</em>, kami pun memutuskan untuk ke bantaran Kali Cisadane, saya tahu di sana ada pempek enak dan beberapa jajanan biasa seperti ketoprak, nasi goreng. Lagi pula di sana bisa makan sambil mengobrol. Kami pun berangkat.</p>
<p>Dari Kisamaun ke sana, kami melewati Pasar Baru dan Koang. Toko-toko di sana pun sudah tutup, termasuk toko makanan seperti seafood. Saat itu waktu hampir pukul 22.30 WIB. Sesampainya di Kali Cisadane, kami bengong. Mengapa? Jajanan yang saya tahu sudah gulung tikar, begitu juga nasi goreng dan ketoprak.</p>
<p>Semakin aneh saja, nongkrong sebentar akhirnya kami munuju kawasan BSD, sepanjang jalan BSD pun sudah sepi. Warung-warung makan sudah tutup. Ahhh&#8230; ternyata saya baru tahu kalau malam mingguan di Tangerang begitu pendek&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2011/01/24/malam-mingguan-di-tangerang-sampai-pukul-23-00-wib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Restoran Cepat Saji Baru segera hadir di Citra Raya</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2011/01/06/4-restoran-cepat-saji-baru-segera-hadir-di-citra-raya/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2011/01/06/4-restoran-cepat-saji-baru-segera-hadir-di-citra-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2011 12:35:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>calimem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fasilitas & Bangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=38665</guid>
		<description><![CDATA[Citra Raya, melihat perkembangannya dari tahun ke tahun begitu cepat. Setiap tahun, setiap bulan selalu membangun dan membangun, selalu ada bangunan baru. Rasanya selama 11 tahun tinggal di sekitar Citra saya belum pernah liat di Citra tidak ada proyek pembangunan, pasti ada aja dan ngga berenti juga bergantian. Perumahan, Cluster baru, Ruko, SPBU, Pusat Belanja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Citra Raya, melihat perkembangannya dari tahun ke tahun begitu cepat. Setiap tahun, setiap bulan selalu membangun dan membangun, selalu ada bangunan baru. Rasanya selama 11 tahun tinggal di sekitar Citra saya belum pernah liat di Citra tidak ada proyek pembangunan, pasti ada aja dan ngga berenti juga bergantian. Perumahan, Cluster baru, Ruko, SPBU, Pusat Belanja, dll.</p>
<p>Nah, setelah bulan puasa kemarin pembangunan KFC ngebbut dan akhirnya tercapai juga targetnya, jadinya pas bulan puasa awal-awal KFC buka konsumen membludak. Setelah KFC, didekatnya dibangun Giant. dan Giant tepat ada di depan Sabar-Subur. Giant pun pada awal bukanya dibanjiri konsumen.</p>
<p>Sekarang sepertinya tidak tanggung-tanggung, saya melihat ada yang berbeda di sekitar bundaran satu. Ya, papan reklame yg sangat besar di dekat bundaran 1 udah ngga ada. (bagus deh, daipada dijadiin tmpat brbuat maksiat) dan ada reklame yg bertuliskan : &#8220;<strong>Segera Hadir : McDonald, Solaria, PizzaHut, Hoka-Hoka Bento&#8221;</strong> <img src='http://blogerbenteng.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Wah asyik nih, pikir saya. Makin banyak aja restoran cepat sajinya, sekaligus 4 lagi. Lokasinya bersebelahan semua, yaitu diantara KFC dan Giant. Sejauh ini dari 4 restoran yg akan dibangun itu, PizzaHut duluan dibangun dan sekarang sudah buka <img src='http://blogerbenteng.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hmm.. kita lihat saja, apakah ke 4 restoran itu akan ramai, dan tentu saja ini menjadi saingan juga bagi para restoran dan warung makan lain di citra. Apalagi letak mereka yg di bunderan 1. Yang jelas menurut saya konsumen lebih banyak pilihan deh buat makan.</p>
<p>Kira-kira apa lagi ya abis ini? wah saya sih mau bioskop, request donk om Ciputra <img src='http://blogerbenteng.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2011/01/06/4-restoran-cepat-saji-baru-segera-hadir-di-citra-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Seperti di Belanda atau Sungai Nil di Mesir&#8217;</title>
		<link>http://blogerbenteng.com/2010/11/10/seperi-berada-di-belanda-atau-sungai-nil-di-india/</link>
		<comments>http://blogerbenteng.com/2010/11/10/seperi-berada-di-belanda-atau-sungai-nil-di-india/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 12:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beatlesmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kota Tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Rekreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogerbenteng.com/?p=35675</guid>
		<description><![CDATA[Yah, sudah tahu di mana lokasi masjid yang sebelumnya saya posting? Itu adalah masjid di tepi Sungai Cisadane (saya lebih senang menyebut Sungai Cisadane daripada Kali Cisadane). Masih teringat salam benak saya sekitar 6 tahun lalu di sungai itu. Mungkin 3 kata yang saya ungkapkan saat itu, yaitu kotor, kumuh, dan menyeramkan. Maaf kalau berlebihan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yah, sudah tahu di mana lokasi masjid yang sebelumnya saya <a href="http://blogerbenteng.com/2010/11/10/masjid-di-mana-ini/">posting</a>? Itu adalah masjid di tepi Sungai Cisadane (saya lebih senang menyebut Sungai Cisadane daripada Kali Cisadane).</p>
<p>Masih teringat salam benak saya sekitar 6 tahun lalu di sungai itu. Mungkin 3 kata yang saya ungkapkan saat itu, yaitu kotor, kumuh, dan menyeramkan. Maaf kalau berlebihan, tapi memang itu yang saya rasakan. Waktu saya masih berkuliah, tidak sengaja melewati tempat itu dan singgah.</p>
<p>Banyak cerita mengenai Cisadane yang saya dengar 6 tahun lalu, mulai dari tempat <em>cabul</em>, sampai kisah misteri. Misal saja, saya banyak mendengar saat itu banyak muda mudi yang pacaran dan berbuat mesum. Atau cerita tentang penunggu Cisadane yang berwujud naga. Ehm&#8230; praktis cerita kedua membuat saya enggan melewati kawasan jalan di belakang Plaza Tangerang atau Robinson.</p>
<p>Apalagi saat itu kawasan tersebut tidak terawat. Memang sih ada banggu-banggu untuk tempat duduk dan beberapa titik tempat bermain anak. Kalau tidak salah memang di sana untuk taman bermain. Seperti hutan kota dekat Taman Makam Pahlawan Tangerang (Saya belum update masih ada atau tidak). Tapi tetap saja, suasana di sana kala itu tidak mengenakan.</p>
<p>Tapi sekarang,</p>
<p>Ehm&#8230; mungkin ada 1000 kata yang bisa saya ungkap untuk Sungai Cisadane saat ini, di antaranya muantab, maknyus, bagus, jempol, dan . . . . nyaman!</p>
<p>Paling tidak saat berada di sana, terbayang sungai di Belanda dan nyamannya bersantai di Sungai Nil India. Itu tidak berlebih dan lebay, itu kenyataan. Bahkan paling tidak seminggu sekali saya ke sana untuk sekadar olahraga sore (karena tidak bisa bangun pagi).</p>
<p>Hembusan angin, suara angin, &#8216;dans&#8217; aliran sungai, dan sesekali terlihat burung gereja. Itu yang membuat mata saya terus betah memandang sepanjang sungai.</p>
<p>Kekasih saya, Sandika Dwi Putri pun suka. Sekitar 2 atau 3 kali kami sudah ke sana (tidak bisa terlalu sering karena kesibukan kami berdua sebagai anak rumahan, hehehe). Kami menikmati.</p>
<p>Apalagi saat untuk yang ketiga kalinya, kami sempat mengabadikan foto-foto di sana. Romantisme begitu kental, apalagi tidak banyak kendaraan yang berseliweran di tepi sungai. Tapi yah tetap saja ada orang-orang yang menaiki motornya ke trotoar, ya sudahlah mudah-mudahan dia sadar dengan kelakuan &#8216;bejatnya&#8217;.</p>
<p>Lalu, apalagi yah? oh ya, ada makanan pelengkap saat saat berkunjung ke sana., yaitu cimol dan es podeng. Emmm&#8230; segar dan klasik sekali. Sambil menyusuri sungai, sambil menikmani es podeng, <em>maknyus pemirsa</em>!</p>
<p>Saat berjalan-jalan di sana, saya sempat berbincang dengan Sandika, bagaimana kalau saat malam terdapat lampion-lampion di pohonnya. Lampu-lampu berkedipan dengan didukung suasana yang sejuk kala malam. Wah, kami sebut itu &#8216;romantisme malam di Cisadane&#8217;. Katanya seperti suasana di Jepang.</p>
<p>Lalu, bagaimana pula jika di tepi sungat ada meja-meja untuk sekadar makan malam. Tentu dengan hidangan tradisional, seperti roti bakar, laksa, siomay, batagor pastinya, dan tak ketinggalan kopi hitam. Wah, <em>maknyus pemirsa</em>!  Dan tentu dengan kocek dangkal alias murah&#8230; Semoga aja khayalan ini terwujud.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogerbenteng.com/2010/11/10/seperi-berada-di-belanda-atau-sungai-nil-di-india/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

